Portalone.net – Pasar keuangan Indonesia dihantam badai pada perdagangan Senin (9/3). Nilai tukar rupiah tersungkur hingga nyaris menyentuh level psikologis Rp17.000 per dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok nyaris 5 persen.
Kombinasi sentimen geopolitik Timur Tengah dan suksesi kepemimpinan di Iran menjadi pemantik utama aksi jual masif di pasar domestik.
Gejolak Pemimpin Baru Iran
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa pasar bereaksi negatif terhadap dinamika politik di Teheran. Terpilihnya putra Ayatollah Ali Khamenei, Seyyed Mojtaba Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru, memicu kekhawatiran akan kebijakan luar negeri yang lebih keras.
“Pemimpin baru ini dikenal sebagai tokoh fundamentalis. Ini memberi sinyal kepada pasar bahwa konflik di Timur Tengah kemungkinan besar masih akan berkepanjangan, setidaknya dalam enam bulan ke depan,” ujar Ibrahim, Senin (9/3).
Situasi kian keruh setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan pernyataan provokatif mengenai potensi perubahan rezim di Iran. Pernyataan ini sontak meningkatkan risiko eskalasi militer yang lebih luas di kawasan tersebut.
Dampak nyata dari ketegangan ini adalah terganggunya jalur distribusi energi global di Selat Hormuz. Sebagai urat nadi pengiriman minyak dunia, blokade atau gangguan di jalur ini memaksa negara-negara produsen besar seperti Arab Saudi dan UEA memutar otak untuk mengamankan ekspor.
“Gangguan di Selat Hormuz membuat perusahaan energi di Asia mulai mengurangi produksi dan menyatakan force majeure. Ini yang memicu lonjakan harga minyak dunia dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah,” tambah Ibrahim.







