Portalone.net – Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) tengah mengkaji langkah strategis perluasan jaringan internet tetap (fixed broadband) guna menekan biaya layanan internet di Indonesia. Kebijakan ini diarahkan untuk meningkatkan keterjangkauan harga sekaligus memperluas akses internet berkualitas bagi masyarakat, khususnya di kawasan padat penduduk yang masih menghadapi biaya konektivitas relatif tinggi.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengungkapkan bahwa penetrasi fixed broadband di Indonesia saat ini baru mencapai sekitar 22 persen dari total konektivitas yang ada. Pemerintah menargetkan angka tersebut dapat meningkat hingga 50 persen agar masyarakat memiliki alternatif layanan internet yang lebih kompetitif dan ekonomis.
“Jadi kita ingin ongkosnya juga semakin rendah dengan memperkuat fixed broadband, bukan cuma mobile broadband,” ujar Wamen Nezar usai menghadiri acara Digital Infrastructure Summit 2026 di Jakarta Pusat.
Berdasarkan data International Telecommunication Union (ITU), biaya langganan internet di Indonesia saat ini dinilai masih cukup tinggi dibandingkan dengan tingkat kemampuan ekonomi masyarakat. Dengan pendapatan per kapita Indonesia yang mendekati USD 5.000, biaya langganan internet rumah tangga idealnya berada di kisaran Rp200.000 per bulan. Namun, realitas di lapangan menunjukkan biaya rata-rata masih berada di angka sekitar Rp300.000.
Sebagai solusi jangka panjang, pemerintah mematok target ambisius agar layanan internet berkecepatan 100 Mbps dapat dinikmati masyarakat dengan biaya sekitar Rp100.000 saja.
Selain fokus pada penekanan biaya, Kemkomdigi tetap memprioritaskan pemerataan akses ke wilayah yang belum terlayani (blank spot). Meskipun cakupan jaringan 4G nasional telah menjangkau 97 persen wilayah berpenghuni, sejumlah kawasan dengan populasi kecil masih belum tersentuh infrastruktur telekomunikasi yang memadai.
Guna mengatasi kesenjangan tersebut, pemerintah menerapkan kebijakan afirmatif melalui kewajiban pembangunan jaringan di wilayah tertinggal dalam setiap proses lelang spektrum frekuensi. Operator telekomunikasi yang keluar sebagai pemenang spektrum diwajibkan untuk turut memperluas konektivitas 4G dan 5G ke daerah-daerah tersebut.
Di samping itu, percepatan pembangunan jaringan 5G turut menjadi prioritas untuk menunjang kebutuhan ekosistem digital nasional. Saat ini, penetrasi 5G nasional masih berada di kisaran 8,5 persen dan terus didorong peningkatannya guna memperkuat kualitas layanan di area berdensitas tinggi.
Melalui sinergi antara pengembangan fixed broadband dan jaringan seluler, Kemkomdigi berharap pemerataan akses digital tidak hanya tercapai dari luasnya cakupan geografis, tetapi juga dari aspek keadilan harga dan inklusivitas bagi seluruh elemen masyarakat.
