IHSG Anjlok Parah, Ketua Banggar DPR Sentil Keras Kebijakan MSCI

Suasana aktivitas perdagangan di lantai bursa Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, pasca-anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Foto. Ist)

Portalone.net – Pasar modal Indonesia dikejutkan oleh gelombang koreksi tajam pada perdagangan Kamis, 16 Oktober 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) babak belur, ambles hingga 11,57 persen dalam sehari, sementara sejumlah saham berkapitalisasi besar (big cap) dan unggulan (blue chip) terkoreksi masif mendekati 15 persen.

Krisis harian yang dipicu oleh pengumuman dari penyedia indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), ini langsung memantik reaksi keras dari Senayan. Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, secara terbuka melontarkan kritik tajam terhadap sikap dan pendekatan yang diambil oleh MSCI terhadap bursa saham domestik.

Dalam pernyataan resminya yang bertajuk “MSCI Bukan Nabi”, Said mempertanyakan apakah perlakuan lembaga pemeringkat global tersebut terhadap Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah berada dalam koridor yang proporsional. Ia mengakui bahwa evaluasi dari lembaga internasional memang penting, namun bukan berarti keputusan mereka bebas dari kritik.

“Yang pasti MSCI bukan kelembagaan agama, tempat kebenaran esensial melekat, dan para pengurus MSCI bukan nabi, yang memiliki otoritas tunggal, dan paling sempurna,” tegas Said dalam keterangannya, dikutip Minggu (18/10).

Menurutnya, komunikasi antara otoritas pasar modal Indonesia dan MSCI semestinya dibangun atas dasar transparansi timbal balik. Upaya memperbaiki tata kelola bursa tidak boleh dilakukan dengan cara-cara yang justru memicu gejolak pasar yang berlebihan dan merugikan investor lokal.

Said menyayangkan sikap MSCI yang dinilai kurang mengapresiasi berbagai langkah pembenahan sistemik yang telah ditempuh oleh regulator domestik, yakni Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BEI, serta Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Ia lantas membandingkannya dengan pendekatan yang diambil oleh lembaga indeks global lainnya, FTSE Russell. Berbeda dengan MSCI, FTSE Russell justru memutuskan untuk tetap mempertahankan posisi Indonesia dalam kelompok Secondary Emerging Market—sejajar dengan negara-negara besar seperti China, India, Filipina, Vietnam, dan Arab Saudi.

Langkah FTSE Russell tersebut didasari oleh apresiasi atas progres perbaikan yang dilakukan Indonesia, mulai dari klasifikasi investor, peningkatan batas saham publik (free float) secara berjenjang (15%, 20%, hingga 25%) oleh OJK, hingga penjatuhan ratusan sanksi tegas kepada pelaku pasar yang melanggar aturan.

“Kenapa FTSE Russel memberi penghargaan atas upaya perbaikan di BEI, sementara MSCI tidak?” ujar Said mempertanyakan.

Meskipun demikian, Said secara sportif mengakui bahwa pekerjaan rumah pembenahan pasar modal Indonesia belum sepenuhnya rampung. Ia tidak menampik masih adanya tantangan terkait dugaan praktik pengaturan harga saham serta perlunya peningkatan keterbukaan informasi kepemilikan saham. KSEI dan OJK disebut perlu terus menyempurnakan transparansi agar investor dapat menghitung risiko secara akurat.

Namun, yang menjadi catatan kritis Said adalah dampak instan dari pengumuman lembaga global terhadap fluktuasi harga. Ia mencatat adanya transaksi masif di mana investor asing justru memborong saham di BEI hingga Rp9,18 triliun di tengah kepanikan pasar pada 16 Oktober lalu.

Walau menegaskan tidak menuduh MSCI bersindikasi menjatuhkan pasar demi keuntungan pihak tertentu, Said mengingatkan bahwa efek domino dari kebijakan tersebut secara sadar atau tidak membuka karpet merah bagi pelaku pasar tertentu, termasuk hedge fund, untuk meraup keuntungan dari kejatuhan harga (profit taking).

“Tentu saja saya tidak menuduh lembaga sekaliber MSCI bersindikasi menjatuhkan harga IHSG, dan memberi jalan investor asing untuk profitaking. Namun fakta yang sulit kita pungkiri, sadar atau tidak, kebijakan MSCI menguntungkan hedge fund,” imbuhnya.

Sebagai penutup, Said mengibaratkan proses reformasi pasar modal Indonesia seperti upaya mencari benda kecil di tengah alam terbuka, yang memerlukan kehati-hatian ekstra agar tidak menimbulkan kerusakan yang lebih luas bagi ekosistem di sekitarnya.

“Memperbaiki pasar modal Indonesia laksana mencari jarum di persawahan dengan padi yang menguning. Mari kita temukan jarumnya, tetapi padi yang menguning tidak rusak karena terinjak-injak saat mencari jarum,” pungkasnya.

Catatan Penting: Tulisan ini dilindungi oleh hak cipta. Dilarang keras mengambil, menyalin, atau menyebarluaskan isi tulisan tanpa persetujuan tertulis dari media atau penulis.

Komentar (0)

Mari berdiskusi dengan sehat. Hindari kata-kata kasar dan provokasi.

💡 Info: Anda akan diminta untuk registrasi/login singkat saat mengirim komentar. Sesi Anda akan otomatis tersimpan untuk kemudahan berkomentar ke depannya.

😀 😂 😍 🙏 👍 🔥 🎉 😢

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Registrasi Diperlukan

Silahkan daftar untuk bergabung dalam diskusi.

Sudah punya akun? Login di sini

Tinggalkan Balasan