Portalone.net – Di tengah denyut nadi perkotaan, pemandangan kontras kerap menyita perhatian publik. Di lorong-lorong pemukiman padat huni tanpa jarak yang lazim disebut rumah bedeng atau rumah deret berdempetan berderet kendaraan roda empat terparkir rapat di dalam garasi rumah warga. Secara rasional ekonomi, profil finansial mereka seharusnya sudah mapan dengan roda perputaran bisnis yang stabil. Namun, mengapa sebagian masyarakat dengan kapasitas aset memadai ini justru memilih bertahan di labirin beton yang sempit dan berisiko tinggi?
Fenomena ini jauh melampaui persoalan keterbatasan finansial semata; ini adalah potret nyata dari skala prioritas, gaya hidup, hingga kalkulasi psikologis yang kerap mengabaikan mitigasi bencana dan kenyamanan jangka panjang.
Secara demografis, realitas di lapangan sering kali bertolak belakang dengan kapasitas hunian. Tidak sedikit keluarga dengan dua anak atau lebih yang berdesakan di dalam rumah sempit tipe dua kamar. Ruang privat menjadi kemewahan yang langka, sementara ruang tumbuh kembang anak tereduksi secara drastis akibat tekanan spasial (crowding).
Secara ekonomi, akumulasi modal dari kepemilikan aset bergerak dan kendaraan semestinya cukup untuk mengonversi nilai tersebut menjadi uang muka KPR atau pembelian hunian tapak yang lebih manusiawi di pinggiran kota. Namun, banyak yang tetap memilih bertahan di pusat aktivitas demi kedekatan dengan tempat usaha. Likuiditas aset dan gengsi kepemilikan kendaraan kerap diprioritaskan di atas investasi properti yang layak.
Di balik deretan mobil di garasi sempit tersebut, tersimpan ancaman laten yang mengintai setiap detik: kerentanan terhadap bencana kebakaran.
Secara arsitektural, ketiadaan fire break atau jarak antarbangunan membuat struktur bangunan sangat rentan mengalami efek domino. Ketika percikan api muncul akibat korsleting listrik atau kelalaian rumah tangga, kobaran api dengan cepat melompati dinding dempet, melahap puluhan rumah dalam hitungan menit.
Data empiris di berbagai wilayah perkotaan menunjukkan bahwa kawasan padat huni selalu menyumbang angka kebakaran tertinggi. Pertanyaannya, mengapa ancaman yang sudah berulang kali terjadi ini gagal memicu perubahan perilaku (risk aversion) dari para penghuninya?
Para sosiolog perkotaan menilai fenomena ini berakar dari present bias kecenderungan manusia untuk mengutamakan kenyamanan instan saat ini (seperti lokasi strategis dekat pasar atau pusat niaga) ketimbang keselamatan jangka panjang.
Selain itu, faktor psikologis berupa ikatan sosial yang kuat (community attachment) di lingkungan lama membuat seseorang enggan beranjak. Hidup di tengah kepadatan menawarkan kohesi sosial tinggi, di mana tetangga bertindak sebagai sistem pendukung sehari-hari. Sayangnya, rasa aman secara sosial ini sering kali menutupi rasa tidak aman secara fisik dan spasial.
Kasus ini membuktikan bahwa literasi finansial tidak otomatis berjalan seiring dengan literasi tata ruang dan mitigasi risiko. Memiliki aset materiil dan kendaraan roda empat belum tentu mencerminkan kepekaan terhadap kualitas hidup keluarga dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, rumah bukan sekadar tempat singgah atau sekadar garasi untuk melindungi kendaraan. Rumah adalah benteng pertahanan terakhir bagi keselamatan keluarga. Sudah saatnya paradigma berpikir “asal dekat usaha” mulai dikompromikan dengan prinsip “aman dan layak huni”, sebelum potensi bencana benar-benar mengetuk pintu rumah tanpa jarak tersebut.
