Portalone.net, BANDUNG – Budaya nongkrong di kalangan remaja dan generasi Z (genz) semakin terlihat di era digital. Aktivitas ini kerap ditemui di ruang publik seperti kafe dan pusat perbelanjaan, terutama di kota-kota besar. Bandung menjadi salah satu wilayah yang cukup menonjol, dengan banyak genz menghabiskan waktu di luar rumah untuk sekadar berbincang, mengerjakan tugas, hingga membahas urusan pekerjaan.
Sejumlah tempat nongkrong di Bandung ramai dikunjungi sejak sore hingga malam hari. Aktivitas nongkrong itu tidak selalu identik dengan kegiatan bersantai semata, karena sebagian genz memanfaatkan tempat tersebut untuk bekerja jarak jauh, berdiskusi, atau menyelesaikan keperluan akademik.
Namun, kebiasaan ini juga memunculkan pertanyaan: apakah nongkrong membawa dampak positif bagi genz, atau justru sebaliknya? Apakah nongkrong dilakukan karena kebutuhan sosial dan produktivitas, atau hanya demi dianggap “gaul” dan mengikuti tren?
Dalam praktiknya, nongkrong dapat menjadi ruang interaksi sosial. Remaja dan genz menggunakan waktu tersebut untuk memperluas relasi, menjaga pertemanan, dan bertukar informasi. Di beberapa kasus, nongkrong juga menjadi sarana diskusi yang berujung pada kolaborasi, seperti membangun proyek kecil, membicarakan rencana bisnis, atau menyusun tugas bersama.
Kafe yang menyediakan akses internet dan suasana nyaman turut mendorong genz menjadikan tempat nongkrong sebagai “ruang kerja alternatif”. Kondisi ini membuat nongkrong tidak selalu dipahami sebagai kegiatan tanpa tujuan.
Di sisi lain, nongkrong juga berpotensi menimbulkan dampak negatif, terutama jika dilakukan tanpa kontrol. Pengeluaran untuk makanan dan minuman, transportasi, serta gaya hidup dapat memicu perilaku konsumtif. Nongkrong yang terlalu sering juga dapat mengurangi waktu belajar, waktu istirahat, dan menurunkan produktivitas apabila hanya berakhir pada aktivitas hiburan.
Tekanan sosial juga disebut menjadi faktor yang membuat sebagian genz merasa perlu ikut nongkrong. Pada kondisi tertentu, nongkrong dilakukan bukan karena kebutuhan, melainkan karena takut tertinggal dari pergaulan atau ingin dianggap mengikuti tren.
Dampak ke Masa Depan Bergantung pada Pola Kebiasaan
Pengamat sosial menilai, dampak kebiasaan nongkrong terhadap perkembangan genz ke depan bergantung pada cara mereka mengelola waktu dan tujuan kegiatan. Jika nongkrong dimanfaatkan untuk hal produktif, seperti membangun jejaring, diskusi ide, atau bekerja, aktivitas tersebut bisa mendukung pengembangan diri.
Sebaliknya, jika nongkrong lebih sering menjadi rutinitas tanpa arah, konsumtif, dan mengganggu prioritas utama, kebiasaan itu berisiko menghambat perkembangan.
Di Bandung, fenomena ini masih terus berkembang seiring bertambahnya ruang-ruang publik yang mendukung aktivitas berkumpul. Ke depan, kebiasaan nongkrong dinilai tetap akan menjadi bagian dari gaya hidup genz, namun manfaat atau mudaratnya akan ditentukan oleh pilihan dan kendali masing-masing individu.
