Portalone.net – Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi melaporkan luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS) telah mencapai 8.000 hektare. Bencana ekologis ini tidak hanya menghanguskan kawasan gambut yang krusial, tetapi juga membawa ancaman nyata bagi kelangsungan hidup harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di habitat aslinya.
Manager Komunikasi KKI Warsi, Rudi Syaf, mengungkapkan keprihatinannya atas eskalasi karhutla di bentang alam Berbak Sembilang. Api yang mulanya melanda kawasan Sembilang di Sumatera Selatan khususnya pada zona tradisional terus merangsek ke arah utara hingga memasuki wilayah Berbak di Provinsi Jambi. Pergerakan api bahkan kini mengancam zona rimba hingga kawasan inti taman nasional.
“Apa yang terjadi di Sembilang akhirnya menjadi persoalan Berbak. Ini menunjukkan bahwa penanganan karhutla gambut harus dilihat sebagai satu kesatuan bentang alam, bukan dibatasi oleh batas provinsi atau kabupaten,” ujar Rudi, Sabtu (3/10).
Kawasan TNBS memegang peranan vital sebagai ruang hidup bagi berbagai keanekaragaman hayati dan satwa liar yang dilindungi undang-undang. Dengan semakin dekatnya kobaran api ke area hutan primer, keselamatan harimau Sumatera satwa dengan wilayah jelajah luas yang bergantung pada keutuhan ekosistem hutan kian terancam.
“Kita tentu berharap api tidak sampai menghanguskan habitat harimau. Namun, api yang terus menjalar ke rumah harimau ini tentu menjadi alarm bagi semua pihak. Semoga masih ada peluang untuk menyelamatkan kawasan ini,” tambahnya.
Berdasarkan analisis spasial Citra Satelit Sentinel-2 oleh Divisi Geographic Information System (GIS) KKI Warsi, tercatat adanya penambahan luasan karhutla lebih dari 3.000 hektare. Lonjakan ini mendongkrak total akumulasi lahan dan hutan yang terbakar di Provinsi Jambi menjadi sekitar 36.800 hektare.
Analisis tersebut juga menunjukkan adanya pergeseran peta sebaran karhutla secara signifikan dalam sepekan terakhir. Kabupaten Tanjung Jabung Timur kini melonjak menjadi daerah dengan luasan kebakaran terbesar di Jambi, menggeser Kabupaten Sarolangun dan Tebo yang sebelumnya menjadi episentrum utama.
“Kebakaran tidak lagi terkonsentrasi pada wilayah-wilayah yang sebelumnya menjadi episentrum, tetapi bergerak semakin kuat ke bentang alam gambut di wilayah timur Jambi,” jelas Rudi.
KKI Warsi mengingatkan bahwa penanganan karhutla di lahan gambut memiliki tingkat kerumitan yang jauh lebih tinggi dibandingkan tanah mineral. Karakteristik api gambut yang dapat merambat secara senyap di bawah permukaan tanah mengikuti lapisan yang kering membuat upaya pemadaman membutuhkan waktu panjang dan strategi khusus.
Hingga saat ini, berbagai pihak gabungan masih terus berjibaku di lapangan untuk mengendalikan api dan mencegah kerusakan ekosistem yang lebih luas di kawasan TNBS.
Rincian Luas Karhutla di Provinsi Jambi Berdasarkan Kabupaten/Kota:
-
Tanjung Jabung Timur: 8.384 hektare
-
Sarolangun: 7.510 hektare
-
Tebo: 7.448 hektare
-
Batang Hari: 6.392 hektare
-
Tanjung Jabung Barat: 3.316 hektare
-
Muaro Jambi: 2.064 hektare
-
Bungo: 1.451 hektare
-
Merangin: 209 hektare
-
Kota Jambi: 43 hektare