Piagam “Board of Peace” Ditandatangani di Davos: Dampak ke Ekonomi Dunia Masih Spekulatif

Penandatanganan Board of Peace Charter di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026), dihadiri perwakilan 19 negara.

Di Eropa, penolakan terbuka datang dari Inggris. Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper mengatakan pemerintahnya belum siap menandatangani, dengan alasan piagam itu berkonsekuensi hukum lebih luas dan adanya kekhawatiran terkait keterlibatan Presiden Rusia Vladimir Putin di dalam kerangka “perdamaian” ketika perang di Ukraina belum menunjukkan tanda komitmen menuju perdamaian.

Sementara itu, aspek ekonomi yang paling konkret muncul dari paparan rencana rekonstruksi Gaza. Financial Times melaporkan Jared Kushner mempresentasikan visi pembangunan “New Gaza” senilai US$30 miliar yang menekankan investasi infrastruktur dan peluang investasi, tetapi sumber pendanaan dan komitmen negara/mitra masih belum jelas.

Bacaan Lainnya

Apakah akan mengubah perekonomian dunia?

Hingga penandatanganan piagam ini, belum ada indikator bahwa Board of Peace Charter langsung mengubah arah ekonomi global. Dampak ekonomi yang mungkin terjadi lebih bersifat tidak langsung dan sangat bergantung pada implementasi: apakah dewan ini mampu menjaga stabilitas keamanan, membuka akses logistik dan perdagangan, serta mengamankan pendanaan rekonstruksi dalam skala besar.

Baca Juga:  Bank Indonesia dan Strategi Menghadapi Perlambatan Ekonomi 2025

Laporan-laporan media internasional menekankan bahwa mandat dan mekanisme kerja dewan masih kabur, sementara dukungan internasional juga belum bulat dua faktor yang biasanya menentukan apakah sebuah inisiatif geopolitik bisa berdampak nyata pada kepercayaan investor dan aktivitas ekonomi.

Catatan Penting: Tulisan ini dilindungi oleh hak cipta. Dilarang keras mengambil, menyalin, atau menyebarluaskan isi tulisan tanpa persetujuan tertulis dari media atau penulis.

Pos terkait