Tekanan sosial juga disebut menjadi faktor yang membuat sebagian genz merasa perlu ikut nongkrong. Pada kondisi tertentu, nongkrong dilakukan bukan karena kebutuhan, melainkan karena takut tertinggal dari pergaulan atau ingin dianggap mengikuti tren.
Dampak ke Masa Depan Bergantung pada Pola Kebiasaan
Pengamat sosial menilai, dampak kebiasaan nongkrong terhadap perkembangan genz ke depan bergantung pada cara mereka mengelola waktu dan tujuan kegiatan. Jika nongkrong dimanfaatkan untuk hal produktif, seperti membangun jejaring, diskusi ide, atau bekerja, aktivitas tersebut bisa mendukung pengembangan diri.
Sebaliknya, jika nongkrong lebih sering menjadi rutinitas tanpa arah, konsumtif, dan mengganggu prioritas utama, kebiasaan itu berisiko menghambat perkembangan.
Di Bandung, fenomena ini masih terus berkembang seiring bertambahnya ruang-ruang publik yang mendukung aktivitas berkumpul. Ke depan, kebiasaan nongkrong dinilai tetap akan menjadi bagian dari gaya hidup genz, namun manfaat atau mudaratnya akan ditentukan oleh pilihan dan kendali masing-masing individu.







