Bad Bunny Ciptakan Fenomena Budaya. Mampukah Ia Memicu Gelombang Politik?

Ilustrasi Benito Antonio Martínez Ocasio (Foto: Portalone.net / AI)

Portalone.net, SAN FRANCISCO – Dunia hiburan dan politik Amerika Serikat bertemu di satu panggung: Super Bowl LX. Di tengah gemuruh persiapan laga antara New England Patriots dan Seattle Seahawks, sorotan tak hanya tertuju pada pertandingan, tetapi juga pada penampilan halftime show dari superstar Puerto Rico, Bad Bunny.

Benito Antonio Martínez Ocasio nama asli Bad Bunny bukan sekadar musisi global. Ia telah menjelma menjadi simbol identitas, kebanggaan, dan solidaritas Latino lintas negara. Kini, dengan panggung Super Bowl yang sepenuhnya menyorot katalog lagu berbahasa Spanyol miliknya, muncul pertanyaan besar: dapatkah fenomena budaya yang ia ciptakan berubah menjadi kekuatan politik?

Bacaan Lainnya

Undangan bagi Bad Bunny untuk menjadi bintang utama halftime show memicu reaksi keras dari sebagian kalangan konservatif, termasuk kritik dari lingkaran Presiden Donald Trump. Namun di sisi lain, momen ini dianggap sebagai tonggak penting bagi warga Hispanik di Amerika Serikat.

Baca Juga:  Chaos Masih Berlanjut di Los Angeles, Penjarahan hingga Jam Malam Diberlakukan

Meski pernah tampil di Super Bowl 2020 bersama Shakira dan Jennifer Lopez, kali ini panggung menjadi miliknya sepenuhnya dan dalam bahasa Spanyol. Bagi banyak pihak, ini bukan sekadar hiburan, melainkan pernyataan identitas.
“Ini momen yang sangat besar,” ujar anggota DPR Alexandria Ocasio-Cortez (D-New York). Ia menilai Bad Bunny berpotensi menggunakan panggung tersebut sebagai momen persatuan sekaligus menyampaikan pesan yang relevan secara sosial dan politik.

Dari Panggung Musik ke Panggung Politik
Bad Bunny bukan pendatang baru dalam dunia aktivisme. Ia dikenal vokal dalam isu kemerdekaan Puerto Rico dan beberapa kali menyuarakan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Saat menerima Grammy untuk Album Música Urbana Terbaik lewat albumnya DeBÍ TiRAR MáS FOToS, ia secara tegas menyatakan: “Sebelum saya berterima kasih kepada Tuhan, saya akan berkata, ‘ICE out.’ Kami bukan liar, bukan hewan, bukan alien kami manusia, dan kami orang Amerika.”

Pernyataan itu merujuk pada penolakan terhadap kebijakan deportasi dan operasi Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) yang semakin intensif di bawah pemerintahan Trump. Dalam beberapa bulan terakhir, kebijakan imigrasi menjadi sumber kemarahan dan solidaritas di komunitas Latino, terutama setelah serangkaian penggerebekan dan kasus penembakan fatal yang melibatkan aparat.

Baca Juga:  Imigrasi Singapura Makin Ketat, 41.800 WNA Ditolak Masuk hingga November 2025

meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap cara pemerintah menangani isu imigrasi. Di komunitas Hispanik, dampaknya terasa lebih dalam. Kisah keluarga yang ditahan dan video penggerebekan yang viral di media sosial memicu gelombang solidaritas lintas diaspora.

“Komunitas kami sedang diserang sekarang,” kata Alderman Chicago Michael Rodriguez. Ia menilai situasi ini justru memperkuat rasa kebersamaan baru dalam “latinidad” identitas Latino yang melampaui batas negara asal.

Catatan Penting: Tulisan ini dilindungi oleh hak cipta. Dilarang keras mengambil, menyalin, atau menyebarluaskan isi tulisan tanpa persetujuan tertulis dari media atau penulis.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *