“Ukraina tidak akan mendukung kesepakatan potensial apa pun mengenai kami yang dibuat tanpa melibatkan kami,” tegas Zelensky.
Tembok Besar Bernama Donbas
Hambatan terbesar tetap berada pada garis depan. Kremlin secara konsisten menuntut Ukraina menyerahkan seluruh wilayah Donbas wilayah yang sebagian besar masih dipertahankan dengan gigih oleh pasukan Kyiv.
Zelensky dengan tegas menolak tuntutan tersebut. “Kami berdiri di tempat kami berdiri,” katanya, mengisyaratkan bahwa garis depan saat ini harus menjadi basis dari gencatan senjata apa pun, bukan penyerahan wilayah tambahan.
Diplomasi di Tengah Padamnya Listrik
Ironisnya, pesan perdamaian dari Washington disambut oleh Moskow dengan salah satu serangan udara terbesar tahun ini. Saat pembicaraan mengenai “tenggat waktu Juni” berhembus, Rusia justru meluncurkan lebih dari 400 drone dan 40 rudal ke infrastruktur energi Ukraina.
Serangan tersebut menyebabkan:
- Pemadaman Massal: Lebih dari 600.000 warga di wilayah Lviv kehilangan akses listrik di tengah suhu di bawah nol derajat.
- Keamanan Nuklir Terancam: Output pembangkit listrik tenaga nuklir terpaksa dikurangi akibat ketidakstabilan jaringan listrik, yang memicu peringatan dari IAEA.
- Kegagalan Inisiatif De-eskalasi: Rusia dilaporkan mengabaikan proposal AS untuk menghentikan serangan terhadap fasilitas energi.
Bagi Zelensky, serangan terbaru ini adalah bukti bahwa Moskow lebih memilih “senjata dingin” daripada diplomasi nyata. Ia menekankan bahwa perdamaian tidak akan mungkin tercapai tanpa jaminan keamanan militer yang absolut dan bantuan pertahanan udara yang berkelanjutan.
“Setiap hari, Rusia bisa memilih diplomasi yang nyata, tetapi mereka memilih serangan baru,” pungkas Zelensky sambil mendesak Barat untuk segera mengirimkan tambahan rudal Patriot dan NASAMS guna melindungi warga sipil dari pembekuan massal. (Chnz)







