Portalone.net – Kementerian Pendidikan Malaysia (MOE) mengambil langkah tegas di tengah krisis kualitas udara yang kian memburuk. MOE secara resmi memutuskan untuk menunda pelaksanaan ujian akhir sekolah menyusul pekatnya kabut asap yang menyelimuti berbagai wilayah di Negeri Jiran.
Keputusan tersebut diumumkan melalui pernyataan resmi pada Kamis (15/10), setelah pemerintah mendengarkan dan mempertimbangkan berbagai kekhawatiran yang disampaikan oleh para orang tua serta wali murid terkait keselamatan dan kesehatan anak-anak mereka, khususnya yang dijadwalkan hadir ke sekolah untuk mengikuti ujian tertulis.
“Kementerian Pendidikan memahami dilema yang dihadapi orang tua. Mereka ingin melindungi kesehatan anak-anak, namun pada saat yang sama khawatir bahwa ketidakhadiran di sekolah dapat menyebabkan anak-anak mereka melewatkan ujian,” demikian bunyi pernyataan resmi MOE, seperti dikutip dari Malay Mail.
Ujian akhir sekolah tersebut sejatinya dijadwalkan berlangsung pada pekan depan. Kendati demikian, gelombang kabut asap parah akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Indonesia membuat otoritas pendidikan harus mengambil kebijakan darurat demi keselamatan pelajar.
Terkait teknis pelaksanaan ke depan, MOE menyerahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah untuk menjadwalkan ulang ujian akhir sesuai dengan situasi dan kondisi di masing-masing wilayah.
“Jadwal baru akan dikomunikasikan kepada orang tua dan wali murid,” tegas pihak kementerian.
Sebelum kebijakan penundaan ujian ini dikeluarkan, krisis kabut asap telah memaksa otoritas pendidikan memberlakukan protokol pengetatan wilayah sekolah. Pekan lalu, sejumlah sekolah sempat ditutup akibat kualitas udara yang dinilai sudah berada di level yang sangat tidak sehat.
Berdasarkan aturan ketat yang ditetapkan MOE pekan ini, sekolah diwajibkan tutup apabila Indeks Polutan Udara (Air Pollutant Index / API) menyentuh angka 200. Selain itu, seluruh aktivitas di luar ruangan (outdoor activities) wajib dihentikan total seketika angka API melampaui ambang batas 100.
Dampak nyata dari kebijakan darurat ini terlihat pada Jumat (16/10), di mana seluruh sekolah di delapan distrik utama resmi diliburkan. Wilayah-wilayah tersebut meliputi Klang, Kuala Selangor, Kuala Langat, Hulu Langat, Gombak, Sepang, Petaling Perdana, hingga Petaling Utama.
