Portalone.net – Sejumlah analis pasar memproyeksikan harga Bitcoin berpotensi menguat sepanjang 2026, dengan salah satu skenario menempatkan aset kripto terbesar itu di kisaran US$150.000 per koin pada akhir 2026. Dengan konversi kasar kurs Rp16.000 per dolar AS, level tersebut setara sekitar Rp2,4 miliar per BTC meski bila memakai kurs referensi Bank Indonesia (JISDOR) Rp16.720 per US$ pada 31 Desember 2025, nilainya mendekati Rp2,5 miliar.
Bank Standard Chartered memangkas proyeksi harga Bitcoin untuk 2026 menjadi US$150.000 (dari sebelumnya US$300.000), dengan alasan laju pembelian institusional dan arus dana ETF yang dinilai tidak seagresif perkiraan awal. Bank itu juga menggeser target jangka panjang US$500.000 ke sekitar 2030.
Bloomberg melaporkan, analis di Bernstein juga memproyeksikan US$150.000 untuk akhir 2026, sejalan dengan penyesuaian ekspektasi pasar setelah pelemahan harga dan dinamika arus ETF.
Di sisi lain, firma riset kripto K33 menilai Bitcoin berpeluang mengungguli saham dan emas pada 2026, dengan sejumlah katalis seperti ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed, arah kebijakan yang lebih ramah kripto, serta dampak keberadaan cadangan Bitcoin strategis AS yang disebut dapat mengurangi suplai beredar. K33 juga menyoroti peluang perubahan regulasi yang dapat memperluas akses investor ritel misalnya melalui kanal dana pensiun sebagai faktor pendorong permintaan.
Meski begitu, sebagian analisis teknikal menilai pola historis siklus pasar masih menyisakan risiko koreksi besar, dengan kisaran penurunan yang dalam pada skenario bearish bila tekanan jual berlanjut dan arus dana ETF melemah.
Analis mengingatkan, proyeksi harga aset kripto sangat sensitif terhadap faktor makroekonomi, regulasi, dan sentimen risiko global, sehingga rentan berubah cepat mengikuti perkembangan pasar.







