Portalone.net – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunjukkan optimisme tinggi terkait konflik panas dengan Iran. Trump meyakini kedua negara akan segera mengakhiri perang melalui perundingan damai yang diprediksi berlangsung akhir pekan ini.
Trump menyebut pertemuan kedua antara AS dan Iran kemungkinan bakal memperpanjang masa gencatan senjata yang awalnya hanya ditetapkan selama dua pekan.
“Kita akan lihat apa yang terjadi. Tapi, saya pikir kita sudah sangat dekat untuk mencapai kesepakatan dengan Iran,” ujar Trump kepada jurnalis di luar Gedung Putih, Kamis (16/4/2026).
Rencana Terbang ke Islamabad
Tak hanya bicara soal perdamaian, Trump memberikan sinyal kuat akan langkah diplomatik selanjutnya. Jika kesepakatan berhasil diteken, ia membuka kemungkinan untuk terbang langsung ke Islamabad, Pakistan.
Pernyataan senada juga ia sampaikan saat berkunjung ke Las Vegas. Di hadapan publik, Trump kembali menegaskan bahwa “perang seharusnya bisa segera berakhir.”
Di sisi lain, sumber dari Pakistan menyebutkan adanya kemajuan signifikan dalam diplomasi jalur belakang (back-channel diplomacy). Pertemuan mendatang diharapkan menjadi momentum penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang akan diikuti oleh perjanjian komprehensif dalam kurun waktu 60 hari.
“Kesepakatan rinci akan menyusul kemudian. Kedua pihak pada prinsipnya sudah setuju. Detail teknis akan menyusul nanti,” ungkap sumber tersebut, dikutip dari Reuters.
Baca Juga:
Peran Mediator Pakistan
Terobosan ini kabarnya tak lepas dari peran mediator utama, Kepala Angkatan Darat Pakistan Marsekal Lapangan Asim Munir. Munir dilaporkan telah mengadakan pembicaraan intensif di Teheran untuk menyelesaikan isu-isu krusial yang sebelumnya menemui jalan buntu.
Sebelumnya, negosiasi di Islamabad pekan lalu berlangsung alot. AS bersikeras meminta Iran mengakhiri total program nuklirnya dan menyerahkan seluruh cadangan uranium yang diperkaya. Namun, Teheran menolak keras dan menuntut Washington menghormati hak mereka dalam pengayaan uranium.
Latar Belakang Konflik
Ketegangan memuncak setelah AS dan Israel meluncurkan serangan besar-besaran ke Iran pada 28 Februari lalu. Operasi militer tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah pejabat tinggi pertahanan Iran.
Iran merespons dengan menggempur aset militer AS di negara-negara Teluk dan menyerang Israel. Tak hanya itu, Teheran sempat melumpuhkan jalur perdagangan minyak global dengan menutup Selat Hormuz.







Komentar (0)
Mari berdiskusi dengan sehat. Hindari kata-kata kasar dan provokasi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!