Portalone.net – Gelombang demonstrasi anti-pemerintah kembali mengguncang Iran pada Sabtu (21/2/2026). Ribuan mahasiswa dari berbagai universitas ternama di Teheran dilaporkan turun ke jalan, menandai aksi massa terbesar sejak tindakan keras (crackdown) mematikan yang dilakukan aparat pada Januari lalu.
Aksi ini terjadi tepat di tengah peringatan 40 hari masa berkabung bagi para korban yang tewas dalam kerusuhan awal tahun. Berdasarkan tradisi setempat, peringatan 40 hari sering kali menjadi momentum bagi publik untuk kembali menyuarakan keresahan mereka.
Laporan yang dihimpun dari berbagai sumber dan rekaman video di media sosial menunjukkan konsentrasi massa terbesar berada di Universitas Teknologi Sharif dan Universitas Amirkabir.
Para mahasiswa meneriakkan slogan-slogan yang menargetkan kepemimpinan tertinggi Iran. Di Universitas Shahid Beheshti, mahasiswa dilaporkan melakukan aksi duduk (sit-in) sebagai bentuk protes atas penahanan rekan-rekan mereka yang hingga kini belum diketahui keberadaannya.
“Ini bukan lagi soal ekonomi semata, ini soal martabat dan kebebasan kami yang telah dibungkam,” ujar salah satu koordinator aksi yang identitasnya dirahasiakan demi alasan keamanan, sebagaimana dikutip dari AFP.
Situasi sempat memanas ketika anggota milisi Basij, organisasi paramiliter yang setia kepada pemerintah, mencoba merangsek masuk ke area kampus untuk membubarkan kerumunan.
Saksi mata melaporkan adanya penggunaan gas air mata di sekitar gerbang universitas. Meskipun aparat keamanan dikerahkan secara masif di titik-titik strategis Kota Teheran, semangat para mahasiswa tampak tidak surut.
Kembalinya ketegangan di Iran ini dipicu oleh akumulasi rasa frustrasi masyarakat terhadap dua hal utama:
Baca Juga:
-
Krisis Ekonomi: Nilai tukar mata uang Rial yang terus merosot tajam mengakibatkan harga kebutuhan pokok melonjak di luar kendali.
-
Tindakan Represif: Publik masih terluka akibat tindakan keras pada Januari 2026 yang menelan ribuan korban jiwa. Lembaga hak asasi manusia internasional memperkirakan angka kematian mencapai 7.000 orang, meski pemerintah Iran merilis angka yang jauh lebih rendah.
Di sisi lain, Iran juga tengah menghadapi tekanan diplomatik hebat dari komunitas internasional terkait program nuklirnya, yang mempersempit ruang gerak ekonomi negara tersebut melalui sanksi-sanksi baru.
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah Iran melalui media pemerintah belum memberikan pernyataan resmi terkait gelombang protes terbaru ini. Namun, akses internet di beberapa wilayah universitas dilaporkan mengalami gangguan atau throttling, taktik yang sering digunakan otoritas Iran untuk menghambat koordinasi demonstran.
Dunia internasional kini tengah memantau apakah aksi mahasiswa ini akan meluas menjadi pemberontakan sipil yang lebih besar, atau kembali diredam oleh kekuatan militer seperti bulan lalu.







Komentar (0)
Mari berdiskusi dengan sehat. Hindari kata-kata kasar dan provokasi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!