Portalone.net – Hasil laporan intelijen Amerika Serikat (AS) terbaru menunjukkan bahwa kepemimpinan Iran masih berada dalam posisi yang kuat. Rezim Teheran dinilai tidak berisiko runtuh dalam waktu dekat, meskipun telah dibombardir tanpa henti oleh pasukan AS dan Israel selama 13 hari terakhir.
Laporan yang didapat Reuters dari tiga sumber anonim ini memberikan analisis konsisten bahwa pemerintahan Iran tetap memegang kendali penuh atas publik.
“Analisis intelijen menunjukkan bahwa rezim tersebut tidak dalam bahaya keruntuhan dan tetap mengendalikan publik Iran,” ujar salah satu sumber yang mengetahui dokumen tersebut, sebagaimana dikutip dari Reuters.
Temuan intelijen ini disebut menjadi tantangan besar bagi Presiden AS Donald Trump. Di satu sisi, Trump telah mengisyaratkan keinginan untuk mengakhiri serangan ke Iran “segera” karena meningkatnya tekanan politik akibat lonjakan harga minyak dunia.
Namun, di sisi lain, AS menghadapi jalan buntu untuk mencapai solusi damai jika para pemimpin garis keras Iran tetap teguh pada pendirian mereka.
Laporan tersebut juga menggarisbawahi bahwa struktur kepemimpinan ulama Iran tetap solid, bahkan setelah Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan terbunuh pada 28 Februari lalu.
Sejak dimulainya agresi, AS dan Israel telah menargetkan berbagai objek vital di Iran, mulai dari situs pertahanan udara, fasilitas nuklir, hingga jajaran pejabat senior.
Selain tewasnya Ali Khamenei, serangan tersebut dilaporkan telah menewaskan puluhan pejabat tinggi dan komandan senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Meski kehilangan banyak pimpinan elit, IRGC yang menguasai sebagian besar sektor ekonomi dan keamanan Iran dilaporkan tetap mampu menjaga stabilitas internal negara.
Senada dengan temuan AS, pejabat senior Israel dalam diskusi tertutup juga mengakui adanya ketidakpastian mengenai apakah perang ini benar-benar akan meruntuhkan pemerintahan ulama di Teheran.
Kuatnya pertahanan Iran diduga berkaitan dengan penerapan Mosaic Defense, sebuah taktik pertahanan berlapis yang memungkinkan unit-unit militer tetap berfungsi secara otonom meskipun komando pusat terganggu.
Selain itu, munculnya sosok Mojtaba Khamenei yang disebut-sebut mengambil peran penting pasca-kematian ayahnya, menjadi sinyal bahwa suksesi kepemimpinan di Iran berjalan lebih stabil dari yang diperkirakan oleh intelijen Barat sebelumnya.
Meskipun demikian, sumber-sumber intelijen menekankan bahwa situasi di lapangan masih sangat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan eskalasi militer di Timur Tengah.







