Kilang Ruwais UEA Berhenti Operasi Usai Diserang Drone, Pasokan Minyak Dunia Terancam

Ilustrasi Kilang minyak dunia.

Portalone.net – Salah satu kilang minyak terbesar di dunia, Kilang Ruwais di Uni Emirat Arab (UEA), dilaporkan berhenti beroperasi total pada Selasa (10/3). Langkah darurat ini diambil menyusul serangan pesawat nirawak (drone) yang memicu kebakaran di kawasan industri tersebut di tengah eskalasi perang Iran yang kian memanas.

Kantor Media Abu Dhabi mengonfirmasi bahwa serangan drone telah menyebabkan kebakaran di Ruwais Industrial City. Meski pihak berwenang belum merinci tingkat kerusakan fasilitas, operasional kilang milik perusahaan negara Adnoc tersebut dihentikan demi alasan keamanan.

Bacaan Lainnya

“Operasional dihentikan sepenuhnya sebagai langkah pencegahan,” ujar seorang sumber yang mengetahui situasi tersebut kepada AFP.

Evakuasi dan Ledakan Susulan

Kepanikan dilaporkan sempat terjadi di kompleks industri tersebut. Seorang saksi mata yang bekerja sebagai pengemudi di area kilang mengaku melihat api membumbung tinggi saat proses evakuasi staf sedang berlangsung.

Baca Juga:  Harga Minyak Dunia Anjlok, Terendah dalam 4 Tahun Terakhir

“Tepat saat kami hendak pergi, kami melihat dua kobaran api lagi muncul dari kompleks tersebut, disertai suara keras seperti ledakan,” tuturnya.

Kilang Ruwais merupakan pilar vital energi global dan menyandang status sebagai kilang lokasi tunggal terbesar keempat di dunia. Gangguan pada fasilitas ini diprediksi akan memperparah guncangan pada pasar energi internasional.

Efek Domino Penutupan Selat Hormuz

Krisis ini diperparah dengan tertutupnya Selat Hormuz akibat konflik. CEO Aramco, Amin H. Nasser, memperingatkan bahwa perang ini dapat memberikan konsekuensi “menghancurkan” bagi ekonomi global.

Nasser menekankan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur urat nadi yang mengangkut 20 persen pasokan minyak dunia. Penutupannya telah memicu reaksi berantai yang menghantam sektor pelayaran, asuransi, hingga industri otomotif dan pertanian.

“Ini adalah krisis terbesar yang pernah dihadapi industri minyak dan gas di kawasan Teluk, melampaui gangguan-gangguan di masa lalu,” tegas Nasser.

Catatan Penting: Tulisan ini dilindungi oleh hak cipta. Dilarang keras mengambil, menyalin, atau menyebarluaskan isi tulisan tanpa persetujuan tertulis dari media atau penulis.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *