Situasi di Teheran: Antara Teror dan Harapan
Di ibu kota Teheran, ledakan mulai terdengar sekitar pukul 09.00 pagi. Warga melaporkan serangan tampaknya menyasar gedung-gedung pemerintahan, termasuk area di sekitar kantor Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Kondisi di jalanan Teheran dilaporkan mengalami kemacetan parah karena orang tua bergegas menjemput anak-anak mereka setelah sekolah-sekolah mendadak ditutup. Meski demikian, belum terjadi kepanikan massal karena sebagian besar warga telah melakukan persiapan stok bahan pangan sejak beberapa pekan terakhir.
Sentimen warga Iran terpantau beragam. Di satu sisi, ada ketakutan akan jatuhnya korban sipil yang lebih besar, namun di sisi lain, sebagian penentang rezim menyimpan harapan akan adanya perubahan politik.
“Kami khawatir warga sipil terbunuh, tapi kami juga sudah terbiasa melihat teman-teman kami ditembak oleh rezim sendiri dalam protes kemarin. Kami sudah tahu rasanya berada di zona perang sebelum serangan ini datang,” ujar Mohsen (25), seorang pekerja IT di Teheran.
Donald Trump Umumkan Operasi Militer
Serangan ini menyusul pengumuman Presiden AS Donald Trump yang menyatakan dimulainya “operasi tempur besar” terhadap Iran. Trump juga menyerukan kepada rakyat Iran untuk bangkit dan mengambil alih pemerintahan mereka.
Operasi ini diluncurkan di tengah kebuntuan negosiasi diplomatik dan hanya berselang tujuh minggu setelah pemerintah Iran menumpas demonstrasi anti-rezim dengan kekerasan. Lembaga aktivis HAM (HRANA) mencatat lebih dari 7.000 orang tewas dalam tindakan keras pemerintah Iran terhadap demonstran sebelumnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi lebih lanjut mengenai total korban jiwa secara nasional maupun tanggapan militer balasan dari pihak Tehran.






