Portalone.net – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan ingin segera menyudahi konflik bersenjata dengan Iran. Tak main-main, Trump mematok target waktu agar ketegangan ini berakhir hanya dalam hitungan pekan guna menghindari perang berkepanjangan.
Dilansir The Wall Street Journal, Kamis (26/3/2026), Trump telah menginstruksikan para penasihatnya untuk tetap berpegang pada target waktu tersebut. Langkah ini diambil di tengah konflik yang telah membara selama hampir satu bulan terakhir.
Pemerintahan AS juga berharap situasi di Timur Tengah mereda sebelum pertemuan penting dengan Presiden China Xi Jinping yang dijadwalkan pada pertengahan Mei mendatang.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa Trump pada dasarnya menginginkan penyelesaian damai. Namun, ada syarat mutlak yang harus dipenuhi Teheran.
“Trump menginginkan penyelesaian damai dengan Iran. Namun, ia juga siap meningkatkan tekanan jika Teheran tidak menerima ‘realitas situasi saat ini’,” ujar Leavitt dikutip dari Anandolu Agency.
Leavitt memberikan peringatan keras. Jika Iran tidak mengakui bahwa mereka “telah kalah secara militer”, maka AS tidak akan ragu meluncurkan serangan yang jauh lebih dahsyat.
“Trump tidak menggertak dan siap mengambil tindakan besar,” tegasnya.
Baca Juga:
Proposal 15 Poin AS Ditolak Mentah-mentah
Sebagai upaya negosiasi, AS dilaporkan telah mengirimkan proposal berisi 15 poin kepada Iran. Poin-poin tersebut mencakup:
- Pembatasan program nuklir.
- Penghentian pengembangan rudal balistik.
- Jaminan keamanan maritim di Selat Hormuz.
Namun, Iran merespons dingin proposal tersebut. Pihak Teheran menyatakan bahwa gencatan senjata hanya akan terjadi sesuai dengan syarat dan waktu yang mereka tentukan sendiri. Iran justru mengajukan lima tuntutan balik, termasuk penghentian total “agresi dan pembunuhan”.
Dampak Konflik: 1.300 Orang Tewas Termasuk Khamenei
Konflik ini telah mencapai titik didih sejak 28 Februari lalu, ketika AS dan Israel melancarkan serangan masif yang menewaskan lebih dari 1.300 orang. Salah satu korban tewas dilaporkan adalah Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Serangan tersebut memicu aksi balasan dari Iran di berbagai titik strategis, yang mengakibatkan gangguan serius pada pasokan minyak global dan stabilitas ekonomi internasional.
Kini, Trump berada di posisi sulit. Di satu sisi, ia didesak oleh sekutu setianya untuk terus menekan Iran, namun di sisi lain ia harus menjaga fokus pada agenda domestik dan pemilu yang sudah di depan mata.







Komentar (0)
Mari berdiskusi dengan sehat. Hindari kata-kata kasar dan provokasi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!