Jurang Literasi dan Inklusi Keuangan
Senada dengan Hesti, Deputi OJK Provinsi Jambi, Septarini Geminastitie, memaparkan fakta menarik terkait perilaku keuangan masyarakat saat ini. Ia menyebut tingkat penggunaan produk keuangan (inklusi) tidak sebanding dengan pemahaman (literasi).
“Banyak yang punya produk keuangan karena ikut-ikutan atau tergiur promosi, tanpa benar-benar memahami risiko. Di sinilah pentingnya edukasi agar masyarakat tidak terjebak investasi bodong atau pinjol ilegal,” kata Septarini.
Beberapa poin penting yang ditekankan OJK dalam acara tersebut antara lain:
-
Waspada Kemudahan Digital: Transaksi lewat ponsel mempermudah hidup, namun meningkatkan risiko penipuan.
-
Cek Legalitas: Selalu pastikan lembaga jasa keuangan terdaftar dan berizin OJK sebelum bertransaksi.
-
Modus Baru: Waspadai tawaran kerja paruh waktu palsu yang berujung pada penipuan keuangan.
Ketahanan Ekonomi Keluarga Jadi Kunci
Di sisi lain, Pemprov Jambi melalui Staf Ahli Bidang Pembangunan dan Ekonomi, Muktamar Hamdi, mengapresiasi langkah taktis TP-PKK. Ia menilai ekonomi daerah akan stabil jika unit terkecil masyarakat, yakni keluarga, memiliki fondasi keuangan yang kuat.
“Ketahanan ekonomi keluarga adalah fondasi ketahanan ekonomi daerah. Jika keluarga bijak mengelola uang dan terhindar dari jeratan utang, stabilitas sosial akan terjaga,” ujar Muktamar.
Kegiatan ini diharapkan mampu mencetak ‘agen literasi’ baru dari kalangan komunitas. Dengan semangat HKG PKK ke-54, TP-PKK Jambi berkomitmen terus mengawal pemberdayaan keluarga agar tercipta masyarakat yang lebih cerdas dan mandiri secara finansial.







