Tak sekadar membiarkan, pihak kepolisian turun tangan dengan berbagai cara. Mulai dari pengamanan, hingga menyediakan hadiah bagi para pemenang, menunjukkan betapa seriusnya dukungan terhadap kegiatan ini.
“Kami ingin mereka merasa diperhatikan. Polisi bukan hanya hadir untuk menertibkan, tapi juga mendukung kegiatan positif seperti ini,” tambahnya.
Bahkan, mobil Raisa atau pengurai massa dari Polresta Jambi juga dikerahkan untuk membantu jalannya acara, lengkap dengan pengeras suara untuk memandu para peserta dan penonton.
Kegiatan ini menjadi sinyal baik bagi masa depan pemuda Jambi. Jika mendapat dukungan berkelanjutan, bukan tidak mungkin balap lari Ramadan ini akan menjadi tradisi baru yang lebih bermanfaat daripada kebiasaan negatif sebelumnya.
“Kenapa harus dilarang kalau ini baik? Ini justru kebalikan dari balap liar atau tawuran. Saya harap ke depannya ada lebih banyak event seperti ini,” tutup Manang dengan penuh optimisme.
Dengan semangat kebersamaan, siapa tahu di tahun-tahun berikutnya, bukan hanya polisi yang ikut berlari, tapi juga para pejabat dan tokoh masyarakat lainnya. (one)







