Parestesia (Kesemutan): Penyebab, Gejala, Pengobatan

1. Anamnesis

Pertama-tama, dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan kepada pasien berkaitan dengan keluhan yang dialami:

  • Sudah berapa lama kondisi ini berlangsung?
  • Apakah pernah mengalami kondisi ini sebelumnya? Jika ya, seberapa sering?
  • Punya riwayat penyakit?
  • Aktivitas apa yang dilakukan sehari-hari?
  • Apa saja yang sudah dilakukan untuk mengatasi masalah ini?

2. Pemeriksaan Fisik

Setelah itu, dokter akan memeriksa kondisi fisik pasien, terutama pada organ bagian dalam yang berkaitan dengan kondisi parestesia tersebut.

3. Pemeriksaan Penunjang

Guna memastikan diagnosis penyebab parestesia, dokter akan melaksanakan prosedur pemeriksaan penunjang, yang meliputi:

  • Pemeriksaan neurologis, yakni memeriksa sistem saraf perfier secara menyeluruh guna mengidentifikasi bagian saraf yang mengalami gangguan
  • CT Scan atau MRI, bertujuan untuk mengidentifikasi adanya gangguan pada leher dan tulang belakang
  • Tes darah, meliputi pengambilan sampel darah dan cairan serebrospinal

Pengobatan Parestesia

Cara mengobati parestesia tentu harus disesuaikan dengan penyebab parestesia itu sendiri. Apabila parestesia merupakan gejala dari suatu penyakit saraf, maka mengobati penyakit tersebut adalah satu-satunya cara untuk menghilangkan kesemutan yang diderita.

Sayangnya, pada kasus parestesia kronis, kesemutan tidak serta merta hilang begitu saja, bahkan ada kemungkinan kondisi ini kembali muncul di kemudian hari. Pasalnya, saraf yang telah rusak tidak dapat diperbaiki seutuhnya.

Namun jangan berkecil hati. Setidaknya ada cara yang bisa dilakukan guna meredakan gejala parestesia agar tidak mengganggu aktivitas Anda sehari-hari, yaitu dengan mengonsumsi obat-obatan seperti:

  • Antidepresan trisiklik, berfungsi untuk menghilangkan rasa nyeri yang mungkin ditimbulkan
  • Kortikosteroid, berfungsi untuk mengatasi peradangan (inflamasi) dan nyeri
  • Fenitoin, gabapentin, pregabalim, berfungsi sebagai anti-kejang

Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwasanya obat-obatan tersebut memiliki sejumlah efek samping, yaitu:

  • Rasa kantuk
  • Mulut kering
  • Infeksi sendi
  • Nyeri
  • Kerusakan urat saraf
  • Mual
  • Pusing
  • Gangguan seksual

Ada baiknya untuk berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter terkait sebelum menggunakan obat parestesia di atas. Selain itu, pengobatan parestesia juga bisa dengan melakukan operasi bedah untuk menghilangkan kompresi urat saraf.

Pencegahan Parestesia

Pada kasus parestesia sementara (temporer), cara mencegah agar kondisi yang sangat mengganggu ini tidak menimpa Anda adalah dengan:

  • Menghindari posisi tubuh yang memicu saraf tertekan, seperti duduk bersila terlalu lama atau tidur dengan kepala bertumpu pada tangan
  • Menghindari gerakan tubuh berulang
  • Selingi aktivitas duduk atau tidur dengan bangun dan melakukan gerakan ringan
  • Penuhi asupan nutrisi dan vitamin yang baik untuk saraf
  • Istirahat yang cukup

Itu dia informasi mengenai parestesia (kesemutan) yang penting sekali untuk Anda ketahui, mengingat kondisi ini sudah pasti dialami. Semoga bermanfaat!

Selain sebagai media informasi kesehatan, kami juga berbagi artikel terkait bisnis.

Catatan Penting: Tulisan ini dilindungi oleh hak cipta. Dilarang keras mengambil, menyalin, atau menyebarluaskan isi tulisan tanpa persetujuan tertulis dari media atau penulis.

Pos terkait