Dengan potongan yang rapi, mobilitas pramugari saat memberikan pelayanan seperti membagikan makanan atau membantu penumpang mengatur bagasi kabin diklaim bisa lebih lincah.
3. Material Khusus untuk Standar Keamanan
Banyak orang awam mengira pakaian yang pas di badan akan menyulitkan gerakan saat darurat. Namun, maskapai modern biasanya menggunakan material kain dengan teknologi high-stretch.
Kain ini memungkinkan pramugari tetap bebas bergerak, seperti saat harus melakukan prosedur evakuasi, memanjat kursi, atau memberikan pertolongan pertama (RJP) tanpa khawatir pakaian akan robek atau membatasi ruang gerak.
4. Aspek Psikologis dan Branding
Secara psikologis, seragam yang rapi dan pas memberikan kesan otoritas dan kesigapan. Dalam industri jasa, citra perusahaan sangat bergantung pada penampilan garda terdepan mereka. Seragam yang disesuaikan secara personal (tailor-made) memastikan setiap awak kabin tampil prima dan profesional.
Pergeseran Tren ke Arah Fungsionalitas
Meski tren seragam “ketat” masih dominan, belakangan ini beberapa maskapai di Indonesia mulai melirik aspek fleksibilitas. Sebut saja maskapai yang mulai memperkenalkan penggunaan celana panjang dan sepatu olahraga (sneakers) bagi pramugarinya untuk meningkatkan kenyamanan, terutama pada penerbangan jarak jauh.
Kritik mengenai objektifikasi juga sering muncul, yang mendorong maskapai untuk terus meninjau ulang apakah desain seragam mereka sudah menyeimbangkan antara nilai estetika dan kenyamanan kerja para kru.






