Sering Dianggap Ketat, Benarkah Seragam Pramugari Indonesia Ganggu Ruang Gerak Saat Darurat?

Potret Awak Kabin Super Air Jet dengan Seragam Khaki yang Ikonik dan Sporty. (Foto: Dok. Istimewa)

Portalone.net – Penampilan awak kabin atau pramugari maskapai penerbangan di Indonesia sering kali mencuri perhatian. Identik dengan kebaya, batik dan pakaian sporty yang memiliki potongan pas di badan (slim fit), seragam ini kerap mengundang diskusi publik terkait aspek fungsionalitas dan estetika.

Meski terlihat ketat, desain seragam tersebut rupanya tidak semata-mata dibuat untuk alasan kecantikan visual. Ada perpaduan antara misi diplomasi budaya hingga standar operasional penerbangan.

Bacaan Lainnya

Berikut adalah beberapa alasan utama di balik desain seragam pramugari maskapai di Indonesia:

1. Representasi Budaya dan “Indonesian Hospitality”

Mayoritas maskapai full service dan medium di Indonesia menggunakan kebaya sebagai identitas utama. Secara pakem busana, kebaya memang didesain untuk mengikuti bentuk tubuh guna menonjolkan keanggunan wanita Indonesia.

Baca Juga:  Garuda Indonesia & Citilink Beri Diskon Tiket Pesawat hingga 19% untuk Mudik Lebaran 2025!

Hal ini merupakan bagian dari upaya maskapai untuk menjadi etalase budaya berjalan. Penggunaan kain batik dan potongan kebaya bertujuan memberikan kesan ramah namun tetap formal kepada penumpang mancanegara maupun domestik.

2. Efisiensi Ruang di Dalam Kabin

Kabin pesawat memiliki ruang gerak yang sangat terbatas, terutama di lorong kursi (aisle). Seragam dengan potongan yang pas dan tidak longgar meminimalisir risiko pakaian tersangkut pada kursi penumpang atau peralatan di dalam pesawat.

Catatan Penting: Tulisan ini dilindungi oleh hak cipta. Dilarang keras mengambil, menyalin, atau menyebarluaskan isi tulisan tanpa persetujuan tertulis dari media atau penulis.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *