Kedua, gangguan pada lapisan ionosfer dapat memengaruhi komunikasi radio frekuensi tinggi (HF) yang lazim digunakan untuk komunikasi maritim serta penerbangan jarak jauh. Dampaknya dapat berupa pelemahan sinyal (fading) hingga pemadaman sementara.
Ketiga, layanan internet berbasis satelit orbit rendah (LEO) dapat mengalami fluktuasi latensi atau kecepatan akibat meningkatnya hambatan atmosfer (drag) yang memengaruhi satelit. Namun, BMKG menilai sistem kelistrikan nasional tidak berada pada risiko fatal. “PLN dan sistem kelistrikan nasional dinilai aman,” kata Syirojudin.
BMKG juga menjelaskan, badai magnetik dipicu aktivitas Matahari berupa ledakan yang menyebabkan lontaran massa korona ke arah Bumi. Partikel bermuatan yang bergerak cepat dikenal sebagai angin matahari memicu gangguan pada medan magnet Bumi.
Berdasarkan pemantauan BMKG, peringatan badai magnetik sempat mencapai level tinggi. Data pengamatan dari salah satu observatorium magnet Bumi di Tondano, Sulawesi Utara, menunjukkan indeks gangguan magnet lokal berada pada kisaran tinggi pada periode puncak gangguan sejak dini hari 20 Januari 2026 waktu Indonesia barat.
Terkait fenomena ini, BMKG mengimbau masyarakat tidak panik. BMKG menyatakan badai matahari tidak berdampak langsung pada kesehatan manusia.
Warga juga diminta mewaspadai potensi gangguan navigasi digital seperti peta berbasis GPS yang sifatnya sementara. Untuk operator telekomunikasi dan navigasi, BMKG menyarankan pemantauan kualitas sinyal satelit serta menyiapkan sistem cadangan bila terjadi penurunan layanan pada jam puncak gangguan.







