Portalone.net – Bagi pendatang atau warga yang baru menetap di Kota Jambi, ada satu fenomena unik yang sering menjadi buah bibir: cara berkomunikasi non-verbal sebagian warga lokal yang dianggap “dingin” hingga terkesan arogan.
Pernahkah Anda berjalan di sudut pasar atau area publik di Kota Jambi, lalu merasa diperhatikan secara intens dari ujung rambut hingga ujung kaki? Atau, mungkin Anda berpapasan dengan seseorang yang menampilkan gestur tubuh dominan bahu tegak, dagu terangkat yang di banyak tempat sering diartikan sebagai sikap “sok jagoan.”
Fenomena ini memicu stigma mengenai karakter orang “dusun” (daerah/pedalaman) yang masuk ke kota dengan membawa tabiat yang dianggap kurang ramah. Namun, benarkah ini bentuk arogansi, atau sekadar benturan bahasa tubuh yang salah dimengerti?
1. Budaya “Melirik” dan Ketertarikan pada Hal Baru
Sikap memandang orang lain seolah “tidak pernah melihat orang” sebenarnya sering kali berakar dari rasa penasaran yang besar (curiosity). Dalam komunitas yang memiliki keterikatan sosial kuat, kehadiran wajah baru atau penampilan yang berbeda dari standar lokal akan memicu atensi spontan.
Sayangnya, dalam norma perkotaan yang lebih individualis, tatapan intens ini sering dianggap sebagai intimidasi. Bagi warga yang terbiasa dengan kehidupan kolektif di dusun, memandang orang lain adalah cara mereka memproses informasi, meski bagi orang kota, hal itu terasa menyerang privasi.
2. Maskulinitas dan Pertahanan Diri
Sikap yang dianggap “sok jagoan” atau merasa paling berkuasa sering kali merupakan bentuk mekanisme pertahanan diri (defense mechanism). Sejarah sosial masyarakat di Sumatera, termasuk Jambi, kental dengan budaya maskulinitas yang kuat.






