Iran Tegaskan Hak Pengadaan Uranium, Abaikan Ancaman AS

Ilustrasi ketegangan Amerika Serikat dan Iran. (Foto: Portalone.net / AI)

Portalone.net – Iran menegaskan tidak akan pernah melepaskan haknya untuk memperkaya uranium dalam perundingan dengan Amerika Serikat, meskipun menghadapi ancaman tekanan militer dari Washington. Pernyataan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam sebuah forum di Teheran pada Minggu (8/2).

Araghchi menekankan bahwa program pengayaan uranium merupakan hak kedaulatan Iran yang tidak dapat didikte oleh kekuatan asing. “Mengapa kami begitu bersikeras mempertahankan pengayaan dan menolak untuk menghentikannya, bahkan jika perang dipaksakan kepada kami? Karena tidak ada seorang pun yang berhak menentukan perilaku kami,” ujarnya.

Pernyataan tersebut muncul di tengah kembali dibukanya perundingan antara Iran dan Amerika Serikat di Oman pada Jumat lalu. Ini merupakan pertemuan pertama kedua negara sejak konflik 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni tahun lalu, yang sempat melibatkan Amerika Serikat secara terbatas.

Ketegangan di Tengah Diplomasi
Meski jalur diplomasi kembali dibuka, bayang-bayang konfrontasi militer masih terasa. Araghchi menyatakan bahwa pengerahan militer Amerika Serikat di kawasan, termasuk kedatangan kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab, tidak membuat Teheran gentar.

“Penempatan militer mereka di kawasan tidak membuat kami takut,” katanya.
Sementara itu, utusan utama perundingan dari pihak Amerika Serikat, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dilaporkan mengunjungi USS Abraham Lincoln. Dalam pernyataan di media sosial, Witkoff menyebut kehadiran kapal induk tersebut sebagai bagian dari strategi “perdamaian melalui kekuatan” yang diusung Presiden Donald Trump.

Trump sendiri menyebut putaran awal perundingan di Oman berjalan “sangat baik”. Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menyatakan bahwa dialog tersebut merupakan “langkah maju”.

Namun, di saat yang sama, Washington tetap melanjutkan tekanan ekonomi. Setelah perundingan pertama, Trump menandatangani perintah eksekutif yang memungkinkan penerapan tarif terhadap negara-negara yang masih melakukan bisnis dengan Iran di tengah sanksi AS. Pemerintah AS juga mengumumkan sanksi baru terhadap sejumlah entitas pelayaran dan kapal yang dituduh terlibat dalam ekspor minyak Iran.

Sanksi dan Tuntutan Tambahan
Iran menyatakan tujuan utamanya dalam perundingan adalah pencabutan sanksi ekonomi yang telah lama membebani perekonomian negara tersebut. Sebagai imbalannya, Teheran bersedia menawarkan “serangkaian langkah membangun kepercayaan” terkait program nuklirnya.

Namun, Araghchi meragukan keseriusan Amerika Serikat dalam menjalankan diplomasi. “Kelanjutan sejumlah sanksi dan tindakan militer menimbulkan keraguan mengenai keseriusan dan kesiapan pihak lain untuk melakukan negosiasi yang sungguh-sungguh,” katanya. Ia menambahkan bahwa Iran tengah memantau situasi secara cermat sebelum memutuskan kelanjutan perundingan.
Selain isu nuklir, Amerika Serikat dan Israel mendesak agar pembicaraan juga mencakup program rudal balistik Iran dan dukungannya terhadap kelompok-kelompok bersenjata di kawasan. Namun, Teheran menolak memasukkan dua isu tersebut dalam agenda negosiasi.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang dijadwalkan bertemu Presiden Trump di Washington pekan ini, menegaskan bahwa isu rudal dan dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata harus menjadi bagian dari setiap kesepakatan.

Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar bahkan menyebut upaya Iran untuk memperoleh senjata paling berbahaya di dunia sebagai “ancaman nyata bagi perdamaian”. Israel dan negara-negara Barat menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir, tuduhan yang secara konsisten dibantah Teheran.
“Kami tidak mencari bom atom,” tegas Araghchi. “Bom atom kami adalah kekuatan untuk mengatakan ‘tidak’ kepada negara-negara besar.”

Konsultasi dengan Mitra Strategis
Di tengah dinamika tersebut, Iran juga melakukan konsultasi dengan mitra strategisnya, China dan Rusia, terkait perkembangan perundingan. Langkah ini menunjukkan bahwa isu nuklir Iran tidak hanya berdampak pada hubungan bilateral Teheran-Washington, tetapi juga pada keseimbangan geopolitik yang lebih luas.

Dengan diplomasi yang kembali berjalan namun diwarnai tekanan militer dan ekonomi, masa depan perundingan nuklir Iran masih penuh ketidakpastian. Dunia kini menanti apakah dialog di Oman dapat berkembang menjadi kesepakatan konkret, atau justru kembali terjerumus dalam spiral ketegangan yang lebih dalam. (Chnz)

Catatan Penting: Tulisan ini dilindungi oleh hak cipta. Dilarang keras mengambil, menyalin, atau menyebarluaskan isi tulisan tanpa persetujuan tertulis dari media atau penulis.

Pos terkait

Komentar (0)

Mari berdiskusi dengan sehat. Hindari kata-kata kasar dan provokasi.

😀 😂 😍 🙏 👍 🔥 🎉 😢

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Registrasi Diperlukan

Silahkan daftar untuk bergabung dalam diskusi.

Sudah punya akun? Login di sini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *