Portalone.net – Gubernur Jambi, Dr. H. Al Haris, S.Sos, MH, menegaskan bahwa fenomena bonus demografi yang tengah terjadi di Provinsi Jambi merupakan pisau bermata dua. Di satu sisi menjadi peluang emas pertumbuhan ekonomi, namun di sisi lain menjadi tantangan besar bagi keberlanjutan pembangunan jika tidak dikelola dengan tepat.
Pernyataan tersebut disampaikan Al Haris saat membuka Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) Tahun 2026 di Ruang Pola Kantor Gubernur Jambi, Rabu (8/4/2026).
“Hampir 70 persen penduduk kita berada di usia produktif (15-64 tahun). Ini adalah peluang sekaligus tantangan. Jika tidak dikelola dengan baik, justru bisa menjadi beban. Tapi jika dimanfaatkan, ini bisa mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Al Haris.
Dominasi Usia Produktif hingga 2040
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, struktur penduduk Jambi didominasi oleh usia produktif sebesar 68,66 persen. Sementara penduduk usia 0-14 tahun mencapai 25,11 persen dan lansia (65 tahun ke atas) sebesar 6,03 persen.
Al Haris memproyeksikan komposisi penduduk usia produktif di Jambi akan tetap bertahan di angka 67,61 persen hingga puncaknya pada tahun 2040 mendatang.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya strategi penguatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), pemerataan distribusi penduduk, serta penanganan urbanisasi yang cepat.
Soroti Kenaikan Stunting dan Fenomena Fatherless
Meski fokus pada usia produktif, Gubernur Jambi memberikan catatan serius pada angka stunting di wilayahnya yang mengalami kenaikan menjadi 17,1 persen.
“Kenaikan ini harus jadi perhatian serius. Kita perlu langkah-langkah progresif, memperkuat data, SDM, kelembagaan, serta sinergi antarlembaga agar angka tersebut bisa ditekan,” tegasnya.
Baca Juga:
Selain stunting, Al Haris menyoroti fenomena sosial yang kerap luput dari perhatian, yakni isu fatherless atau anak yang tumbuh tanpa kehadiran figur ayah. Mengacu pada data bahwa 25,11 persen penduduk adalah anak-anak, ia menyebut sekitar seperempat dari jumlah tersebut kehilangan figur ayah.
“Ini berpotensi memicu berbagai masalah sosial jika tidak kita tangani bersama,” tambahnya.
Nasib Lansia dan Angka Kematian Ibu-Anak
Isu kependudukan lain yang menjadi sorotan adalah tren peningkatan populasi lansia. Al Haris meminta para bupati dan wali kota untuk melakukan pendataan akurat terhadap lansia di daerah masing-masing, terutama mereka yang tinggal di rumah tidak layak huni tanpa keluarga.
Di sektor kesehatan, Jambi juga masih berjuang menekan Angka Kematian Bayi (AKB) yang berada di angka 16,99 per 1.000 kelahiran, serta Angka Kematian Ibu (AKI) yang mencapai 177 per 100.000 kelahiran.
“Isu kependudukan adalah tanggung jawab bersama, mulai dari pemerintah daerah, swasta, hingga masyarakat. Kita harus lebih kompak dan fokus agar visi ‘Jambi Mantap’ dan program prioritas nasional bisa tercapai,” pungkasnya.
Hadir dalam Rakorda tersebut Kepala BKKBN Perwakilan Provinsi Jambi Drs. Putut Riyatno, M.Kes, serta Inspektur Utama Kemendukbangga/BKKBN RI Dr. A. Damenta yang memberikan arahan secara daring.







Komentar (0)
Mari berdiskusi dengan sehat. Hindari kata-kata kasar dan provokasi.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!