Bos IAEA: Belum Ada Bukti Kuat Iran Kembangkan Senjata Nuklir

Ilustrasi Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi menegaskan bahwa tidak ada bukti kuat Iran membuat senjata atau bom nuklir. (Foto: AI/Portalone.net)

Portalone.net – Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, menegaskan bahwa hingga saat ini pihaknya belum menemukan bukti kuat yang menunjukkan Iran tengah memproduksi senjata atau bom nuklir.

Meski demikian, Grossi memberikan peringatan keras bahwa sejumlah isu yang belum terselesaikan seputar program nuklir Teheran tetap menjadi perhatian serius dunia internasional.

Dalam pernyataan resminya pada Selasa malam, Grossi mengungkapkan bahwa Iran saat ini memiliki persediaan uranium yang diperkaya dalam jumlah besar. Bahkan, tingkat pengayaannya disebut telah mencapai level yang mendekati kemampuan teknis untuk membuat senjata nuklir.

“Badan tersebut belum menemukan bukti bahwa Iran sedang mengembangkan senjata nuklir,” ujar Grossi, sebagaimana dikutip dari Middle East Monitor, Rabu (5/3/2026).

Namun, Grossi menyoroti kendala utama yang dihadapi IAEA, yakni penolakan Teheran untuk memberikan akses penuh kepada para inspektur internasional. Hal ini, menurutnya, telah memicu kekhawatiran mendalam di internal badan pengawas nuklir PBB tersebut.

Tanpa kerja sama penuh dari Iran untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan teknis yang menggantung, IAEA mengaku tidak dapat memberikan jaminan penuh bahwa program nuklir Iran bersifat murni damai.

Eskalasi di Tengah Kebuntuan Diplomasi

Pernyataan Grossi ini muncul di titik nadir hubungan diplomatik Timur Tengah. Sebelumnya, Israel dan Amerika Serikat sempat melancarkan serangan udara ke wilayah Iran setelah menganggap jalur negosiasi nuklir telah menemui jalan buntu.

ADVERTISEMENT

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Oman, Badr Al Busaidi, sempat mengungkapkan adanya titik terang sebelum konflik fisik pecah. Ia menyebut Iran pada prinsipnya telah setuju untuk tidak menimbun uranium yang diperkaya sebagai bagian dari kesepakatan diplomatik.

Proposal yang disebut Al Busaidi mencakup mekanisme verifikasi ketat, di mana Iran bersedia melepaskan material yang telah diperkaya dan memastikan tidak ada bahan bakar nuklir yang ditimbun untuk kepentingan militer.

Namun, upaya diplomasi ini terganjal oleh sikap keras Washington. Presiden AS Donald Trump bersikeras bahwa Iran tidak boleh melakukan pengayaan uranium sama sekali, bahkan pada tingkat rendah sekalipun.

Tuntutan lama ini kembali ditegaskan oleh Gedung Putih, yang meminta Teheran sepenuhnya menghentikan seluruh kegiatan pengayaan tanpa pengecualian, sebuah syarat yang hingga kini terus ditolak oleh pihak Iran.

Catatan Penting: Tulisan ini dilindungi oleh hak cipta. Dilarang keras mengambil, menyalin, atau menyebarluaskan isi tulisan tanpa persetujuan tertulis dari media atau penulis.

Pos terkait