Portalone.net – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kontroversi diplomatik dengan menyebut Kuba sebagai “bangsa yang gagal” (failed nation). Dalam pernyataan terbarunya, Trump bahkan melontarkan wacana untuk melakukan “pengambilalihan secara halus” (friendly takeover) terhadap negara kepulauan tersebut.
Pernyataan ini disampaikan Trump kepada wartawan di South Lawn, Gedung Putih, pada Kamis (26/2/2026) waktu setempat, sesaat sebelum ia bertolak menuju Texas.
Trump menyoroti krisis energi dan ekonomi yang kian akut di Kuba sebagai alasan utama label “bangsa gagal” tersebut. Sebagaimana diketahui, dalam beberapa bulan terakhir, Kuba mengalami kelumpuhan total pada jaringan listrik dan transportasi akibat terhentinya pasokan minyak dari sekutu utamanya.
“Kuba saat ini adalah negara yang gagal. Mereka tidak punya listrik, mereka tidak punya makanan, mereka tidak punya apa-apa. Ini adalah tragedi kemanusiaan yang luar biasa,” ujar Trump di hadapan awak media.
Ia mengeklaim bahwa kondisi ini merupakan hasil dari kegagalan manajemen pemerintahan komunis di Havana selama puluhan tahun.
Yang menarik perhatian dunia internasional adalah penggunaan istilah “pengambilalihan secara halus” oleh Trump. Ia mengisyaratkan bahwa pemerintah Kuba mungkin tidak punya pilihan lain selain “menyerahkan” kendali tertentu atau menerima kesepakatan besar dengan AS demi bertahan hidup.
“Mungkin kita akan melakukan pengambilalihan Kuba secara halus. Kita bisa saja berakhir dengan pengambilalihan yang bersahabat (friendly takeover). Mereka (pemerintah Kuba) sudah mulai bicara karena mereka tidak punya jalan keluar lain,” tambah Trump tanpa merinci detail komunikasi yang dimaksud.
Langkah ini dipandang para analis sebagai bagian dari strategi “tekanan maksimum” (maximum pressure) yang dijalankan Trump sejak awal masa jabatan keduanya pada Januari 2026.
Krisis di Kuba mencapai titik nadir setelah sekutu terdekatnya, Venezuela, mengalami guncangan politik hebat menyusul penangkapan Nicolas Maduro pada awal Januari 2026. Putusnya pasokan minyak subsidi dari Venezuela membuat ekonomi Kuba runtuh seketika.
Trump memanfaatkan momentum ini dengan memperketat embargo dan menjanjikan bantuan kemanusiaan dalam skala besar, namun dengan syarat adanya perubahan rezim atau reformasi total di Havana.
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah Kuba di bawah Presiden Miguel Díaz-Canel belum memberikan tanggapan resmi terkait istilah “pengambilalihan halus” tersebut. Namun, dalam pidato sebelumnya, Díaz-Canel secara konsisten menuding Washington melakukan “terorisme ekonomi” untuk memicu kekacauan sosial di Kuba.
Sejumlah pengamat internasional memperingatkan bahwa retorika Trump ini dapat meningkatkan ketegangan di kawasan Karibia, mengingat posisi geopolitik Kuba yang sangat sensitif bagi keamanan nasional AS.






