Titik Terang dan Tembok Penghalang
Beberapa poin krusial yang menjadi sorotan dalam dinamika diplomasi ini antara lain:
Fokus pada Isu Nuklir: Iran mengklaim AS mulai sepakat untuk membatasi cakupan negosiasi hanya pada isu nuklir, tanpa mencampurkannya dengan isu regional lainnya.
Nasib Pengayaan: Takht-Ravanchi menegaskan bahwa tuntutan “nol pengayaan” dari AS sudah tidak relevan lagi bagi Iran. Namun, hal ini kontras dengan pernyataan Presiden Trump pekan lalu yang menyatakan tetap tidak menginginkan adanya pengayaan sama sekali.
Program Rudal Ballistik: Iran secara tegas menolak memasukkan program rudal mereka ke dalam meja perundingan. “Saat kami diserang, rudal-rudal kami yang menyelamatkan kami. Bagaimana mungkin kami menerima pelucutan kemampuan pertahanan kami?” kata sang diplomat.
Di Bawah Bayang-bayang Ancaman Militer
Di sisi lain, ketegangan di lapangan tetap tinggi. Donald Trump sebelumnya sempat mengancam akan melakukan serangan militer jika kesepakatan gagal dicapai, dibarengi dengan peningkatan kehadiran militer AS di kawasan Timur Tengah.
Menanggapi hal tersebut, Takht-Ravanchi memperingatkan bahwa perang baru akan menjadi bencana bagi semua pihak. Ia juga memperingatkan bahwa pangkalan militer AS di kawasan akan menjadi target sah jika Iran merasa terancam secara eksistensial.
“Tidak bijaksana bahkan untuk memikirkan skenario berbahaya seperti itu karena seluruh kawasan akan kacau balau,” tambahnya.
Meski banyak pengamat skeptis terhadap peluang tercapainya kesepakatan baru, kehadiran tokoh-tokoh kunci seperti Jared Kushner dalam pembicaraan sebelumnya dipandang Iran sebagai sinyal positif atas keterlibatan serius AS. Kini, mata dunia tertuju pada pertemuan di Jenewa untuk melihat apakah diplomasi mampu meredam ambang konflik di Timur Tengah. (Chnz)







