Langkah ini juga dianggap sedikit menyimpang dari strategi keamanan nasional Trump sebelumnya yang lebih menekankan fokus pada Belahan Bumi Barat (Amerika Latin). Meski demikian, Komando Selatan AS (SOUTHCOM) menegaskan bahwa kemampuan operasional mereka di Amerika Latin tetap terjaga meskipun aset utama dipindahkan.
Risiko Kelelahan Personel dan Teknis
Pengerahan ini membawa konsekuensi serius bagi angkatan laut AS. USS Gerald R. Ford telah melaut sejak Juni 2025, yang berarti kru kapal akan segera memasuki bulan kedelapan masa tugas mereka.
Laksamana Daryl Caudle, perwira tinggi Angkatan Laut AS, sebelumnya menyatakan keberatannya terhadap perpanjangan masa tugas kapal induk.
Dampak Personel: Melampaui batas standar 6-7 bulan penempatan dinilai merusak moral kru, mengganggu rencana pribadi seperti pernikahan dan pemakaman keluarga.
Masalah Teknis: Perpanjangan tugas mempercepat tingkat keausan peralatan dan mengacaukan jadwal pemeliharaan (maintenance) yang sangat ketat. Sebagai contoh, USS Dwight D. Eisenhower yang bertugas 9 bulan di Timur Tengah sebelumnya kini masih tertahan di galangan kapal karena perbaikan yang molor.
Peringatan Keras untuk Teheran
Dalam pembicaraannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Rabu lalu, Trump menegaskan bahwa negosiasi harus terus berlanjut. Namun, ia juga memberikan peringatan keras jika diplomasi gagal.
“Saya pikir mereka (negosiasi) akan berhasil. Dan jika tidak, itu akan menjadi hari yang sangat buruk bagi Iran,” tegas Trump.
Hingga saat ini, Iran tetap bersikeras bahwa program nuklirnya bertujuan damai. Namun, data menunjukkan Teheran telah memperkaya uranium hingga kemurnian 60%—hanya selangkah secara teknis menuju level senjata nuklir. (Chnz)







