Aku berharap sesuatu akan terjadi, setidaknya biarkan aku mendapat sepotong kecil peta untuk terus beralasan tetap berdebar. Aku berteriak pada angin dan mereka membisikkan sapaan mu. Aku menemukan sepotong peta ku.
Bisikkan itu lalu berlari dan menghantam ku dengan ucapan nyata. Kamu ada, terdengar dan tergapai lagi oleh pikiran ku. Aku menemukan debaran lagi dan merasa cukup untuk berlari. Tapi itu menurutku. Keadaannya kamu nyata tapi bukan lagi hati ku. “Kita” adalah bahasa muram masa lalu dan kamu sudah berpindah ke masa depan dengan pilihan baru. Aku patah, tersesat lagi tapi kini dengan pengertian yang lebih sederhana.
Aku cemburu. Dan Cinta tidak cemburu. “Kita” sudah ada diluar lingkaran masa lalu dan tidak akan bergerak masuk lagi. “Kita” bukan lagi aku dan kamu. Entah kemana jantung ku berpindah.
Lalu aku terdampar lagi di masa lalu yang lain. Masih tersesat, tapi menemukan sepotong peta lagi. Kamu mengenal potongan itu? Dia pernah bersama ku setelah kamu. Dia pernah bersama mu sebelum bersama ku. Dia orang itu.
===============================================
Sebuah Nasihat
Saya paling bisa membalas omongan jahat orang dengan kata-kata yang lebih jahat. Otak saya terdiri dari kumpulan kamus kata-kata positif dan super negatif yang bisa muncul jika diri merasa terancam.
Orang yang berkata jahat pada saya, sebagiannya tidak tahu bahwa saya bisa jauh lebih menyakiti mereka. Sebagiannya tahu, karena pada akhirnya saya tidak selalu bisa menahan diri dan memuntahkan kata-kata yang lebih menyakitkan bagi mereka yang menyakiti saya, meski tidak saat itu juga.
Saya sering teringat kejadian di tahun pertama saya kuliah dulu. Saya cerita pada seorang teman baik, bahwa saya sebal pada seseorang dan akan membalas dengan kalimat yang sama menyakitkannya.
Nasihat teman saya sederhana, “kalo lu bales, apa bedanya lu sama dia?”
Dan nasihat itu sering bisa menjadi pengendali saya, apakah sebuah perkataan negatif harus dibalas karena orang tersebut harus tahu bahwa dia salah, ataukah harus didiamkan karena tidak ada gunanya.
Kalau iman sedang baik, semua dikembalikan pada Yang Menciptakan Bibir, dia yang bisa membungkam orang zalim (termasuk saya sendiri mungkin di banyak kasus) dengan cara-Nya. Kalau iman sedang kurang baik, akan muncul dendam tak berkesudahan.
Pada dasarnya, semua kejadian yang membuat hati berasa buruk butuh diistighfari. Barangkali kita diingatkan pada perbuatan kita yang tidak menyenangkan, atau sekedar untuk ujian kesabaran.
============================================
Ada beberapa kenangan yang
tak ingin kau lupakan,
tapi nyatanya tak bisa kau ingat.
Ada beberapa kenangan yang
tak ingin kau ingat,
tapi nyatanya tak bisa kau lupakan.
Bagi beberapa kenangan,
ingatan adalah ruah
dan
bagi beberapa kenangan,
ingatan hanyalah tempat singgah.
–G.N
===============================================
Aku Bisa Menunggu
Aku terlalu terbelenggu oleh kata-kata yang untai menuju masa lalu. Kata-kata yang lahir dan menemui kematiannya sendiri. Karena di masa lalu hanya ada kenangan-kenangan yang kelak tersapu dan terlupakan. Kenangan yang kunamakan “tujuh tahun” dan “dua tahun”.
Kenangan itu membuatku lupa, bahwa perjalananku bukanlah untuk alasan yang dipaksakan indah dan untai. Ada masa depan yang dicitakan.
Dan itu kamu.
Menemukanmu dalam keindahan kata-kata bukanlah tujuanku. Perjalanan ini mengubahku terlalu jauh dan aku harus berusaha keras untuk kembali pada kehidupan lama itu.
Aku sungguh lupa bahwa yang kubutuhkan taklebih dari kesederhanaan. Kumpulan kata-kata yang membentuk kesederhanaan untuk apa pun: perihal bahagia, sedih, dan juga menemukanmu. Karena untukmu, aku ingin berdiri dalam jarak di mana kelak kau akan menemukanku juga dengan sekotak rindu yang sudah kusiapkan berlapiskan beludru.
Untuk membersamaimu, aku bisa menunggu.
Jakarta,
18 April 2017
============================================
Tidak Ada Engkau Hari Ini
untuk ‘hidupku’
Pada mulanya, aku adalah kosong.
Mula adalah tengah persimpangan;
ketika aku masih perlu mengenal rambu.
Waktu telah rela kukecup
habis selama dua puluh tiga tahun;
—dan lebih dari satu tahun
sebelum cinta sampai
dan jatuh kepadamu.
(mungkin bukan cinta, hanya
hal yang ternyata ‘sama’ saja)
Persimpangan kutempuh.
Mendekati atau menjauhi,
aku belum tahu, karena
jalan terlihat seperti tiada ujung.
Lampu-lampu jalan menguning
ketika aku menggenggam sebanyak sisi gelap
diri ke dalam jemarimu
—Dan matamu yang terkadang
merasakan marah, bersembunyi
dan beradu dengan ketidakyakinan.
Melihatnya, aku merasa:
Hidup seperti mengulang kesalahan-kesalahan,
dan kita dibuat tidak pernah merasa bisa
menunjukkan daya, yang banyak dibicarakan
orang-orang—Apa cinta selemah itu
Sayangku?
Katamu, manusia tak seharusnya
berhenti belajar dan mengerti.
Kejatuhan demi kejatuhan,
semakin memperjelas bahwa cinta
menjadi semakin baur
kabur dengan hal-hal yang tidak pernah
kita ingin ketahui—merasakannya
hanya membuatmu lara
dan menangis dengan tatapan berdosa
Aku sendiri jatuh; jauh ke dalam
palung matamu. Aku bertanya
tapi jawabanmu selalu mental
dengan tidak tahu; dan tidak tahu
adalah jawaban; karena marahmu
pada diri sendiri menampar kaku
mukaku yang—ternyata—tidak pernah
bisa menguasai diri dan mata hati
Sampai pada masa itu, aku kembali
pada mula yang kosong. Terhadap
hidup tidak ada isi apa-apa;
dan terhadap cinta yang menghulu
kepadamu—hanya tersisa huruf-huruf
yang dahulu adalah buku
Aku menangis, karena buku
adalah kumpulan kata-kata
yang maknanya tertampung
sedemikian rupa tentangmu
—dan sudah kesekian kalinya
aku sendiri yang menghancurkannya;
berhamburan
Tapi, kau selalu sabar menuntun
dan menyusun kejatuhanku
pada jiwaku yang hilang bentuk
—mencintai aku yang kesekian kali
dan mempercayai (?) aku keserupa kali
Kini, aku mengisi kebermulaanku
—atau kematianku?—dengan memantik
suci api pada lilin harapan hidupmu
Kosong, kuisi kembali buku-buku
dengan kata yang berhamburan
pada lantai yang pekat dengan
air mata—atau penyesalan?
Tanganku bergetar dan nafasku
tak berhenti sesengukan
dan—lagi-lagi—kau merasakannya;
mendekapku ke dalam dadamu
—yang hangat dan harum
dan jantungmu yang memompa
tanda tanya
Kudekapkan tanganku
—yang gemetar
pada dada sendiri
melingkar tanganmu
pada punggungku
untuk terakhir kali
lirih dan syahdu suaraku:
—Sayang, inikah akhir
yang selalu kita tunggu?
============================================
JANGAN
Jangan rindu, itu candu.
Jangan cinta, itu siksa.
Jangan sayang, itu meradang.
–G.N
============================================












