Selain beras, kesepakatan tersebut mencakup impor 580.000 ekor ayam hidup dengan nilai estimasi mencapai 17 juta hingga 20 juta dollar AS. Namun, Haryo menekankan bahwa yang diimpor bukanlah ayam potong (broiler) untuk konsumsi langsung, melainkan Grand Parent Stock (GPS).
“Fokusnya adalah pembibitan. Kita masih membutuhkan pasokan GPS dari luar negeri untuk memperkuat industri peternakan ayam di hulu,” tuturnya.
Selain ayam hidup, Indonesia juga akan mengimpor produk Mechanically Deboned Meat (MDM) sebanyak 120.000 hingga 150.000 ton. Produk ini digunakan secara khusus sebagai bahan baku industri makanan olahan seperti sosis dan nugget, bukan untuk dijual bebas di pasar tradisional.
Kebijakan impor ini merupakan bagian dari skema timbal balik yang memberikan keuntungan besar bagi eksportir Indonesia. Dalam perjanjian ART, AS memberikan fasilitas tarif nol persen untuk 1.819 produk asal Indonesia.
Beberapa poin krusial dalam perjanjian tersebut antara lain:
- Penurunan Tarif: Rata-rata tarif impor produk Indonesia ke AS turun dari 32 persen menjadi 19 persen.
- Akses Pasar: Sebanyak 53 kelompok komoditas pertanian Indonesia kini mendapatkan akses lebih luas ke pasar Amerika Serikat.
- Komoditas Lain: Indonesia juga berkomitmen memfasilitasi impor kapas, kedelai, gandum, jagung, serta buah-buahan seperti apel dan anggur dari AS.
Meski telah menyepakati angka tersebut, pemerintah memastikan akan terus memantau realisasi impor agar tidak berbenturan dengan masa panen raya di dalam negeri. Koordinasi antara kementerian teknis akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas harga di tingkat petani dan peternak lokal.
“Semangat dari ART ini adalah perdagangan yang saling menguntungkan. Kita membuka akses untuk kebutuhan industri yang belum mencukupi, sementara produk unggulan kita mendapatkan karpet merah di pasar internasional,” pungkas Haryo.






