“Saya kira ya menguntungkanlah (tarif 10% tersebut dibanding tarif sebelumnya). Intinya kita siap menghadapi segala perkembangan yang ada,” tambah Prabowo.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, yang mendampingi Presiden, menjelaskan bahwa pemerintah akan terus memantau proses ratifikasi dan implementasi perjanjian dagang tersebut. Ia menekankan bahwa hubungan bilateral antara Indonesia dan Amerika Serikat tetap kuat meskipun ada dinamika hukum di Washington.
“Perjanjian dagang kita tetap berproses sesuai mekanisme yang disepakati. Pihak Amerika juga butuh proses internal pasca-putusan MA ini. Kita akan melakukan pembicaraan lanjutan untuk memastikan kepentingan nasional tetap terlindungi,” jelas Airlangga.
Kunjungan Presiden Prabowo ke AS kali ini tidak hanya membahas soal tarif, tetapi juga memperkuat kerja sama di sektor energi, ketahanan pangan, dan investasi melalui penandatanganan sejumlah nota kesepahaman (MoU) bernilai miliaran dolar.






