“Fenomena ‘Tatapan Sinis’ di Kota Jambi: Antara Rasa Penasaran atau Sikap Sok Jagoan?”

Ilustrasi Adu Tatap di Ruang Publik: Kontras antara Gestur Warga Lokal dan Kebingungan Pendatang di Sudut Kota Jambi. (Foto: Portalone.net)

Menunjukkan kesan “tangguh” di ruang publik dianggap sebagai cara untuk mendapatkan rasa hormat agar tidak diremehkan. Hal ini bukan berarti mereka berniat memicu konflik, melainkan sebuah cara berkomunikasi bahwa mereka “ada” dan “berdaulat” di tanah tersebut.

3. Gap Komunikasi Antarbudaya

Sosiolog sering menyebut fenomena ini sebagai gegar budaya lokal. Ketika warga dari latar belakang yang lebih tradisional (dusun) berinteraksi di lingkungan urban yang heterogen (kota), terjadi ketidaksiapan dalam mengadopsi etika ruang publik modern yang cenderung anonim dan sopan.

Bacaan Lainnya

“Ada kesan ingin diakui, tapi caranya masih menggunakan cara-cara lama yang di desa mungkin dianggap biasa atau bahkan gagah, tapi di kota dianggap arogan,” ungkap salah satu pengamat sosial lokal.

4. Perlunya Literasi Sosial

Stigma negatif ini sebenarnya bisa diredam dengan interaksi yang lebih cair. Sering kali, jika diajak berbicara secara langsung dengan nada yang santun, sosok yang tadinya terlihat “sangar” justru menunjukkan keramahan luar biasa khas masyarakat Melayu Jambi.

Baca Juga:  Supervisor di Jambi Ditangkap! Gelapkan Uang Rp 390 Juta Demi Judi Online

Arogansi yang terlihat di permukaan sering kali hanyalah “topeng” dari kekakuan dalam bergaul di lingkungan baru.

Apakah Anda punya pengalaman serupa saat berkunjung ke Jambi atau kota lainnya? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar.

Catatan Penting: Tulisan ini dilindungi oleh hak cipta. Dilarang keras mengambil, menyalin, atau menyebarluaskan isi tulisan tanpa persetujuan tertulis dari media atau penulis.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *