Saat Curiga Jadi Kebiasaan, Hubungan Mulai Kehilangan Nafas

Jarak Emosional di Antara Dua Orang yang Berdekatan.

Di sisi lain, beberapa ahli menekankan bahwa “prasangka buruk” berbeda dengan kewaspadaan yang wajar, terutama bila ada riwayat kebohongan, pelanggaran komitmen, atau perilaku yang konsisten merugikan. Dalam kondisi demikian, yang dibutuhkan bukan sekadar menahan prasangka, melainkan membangun kejelasan batas, transparansi, serta kesepakatan baru yang realistis.

Konselor hubungan menyarankan pasangan membedakan dugaan dan fakta saat konflik muncul. Salah satu cara yang umum dipakai adalah menyampaikan observasi terlebih dulu, lalu menanyakan konteks. Misalnya, “Aku lihat kamu pulang lebih malam dari biasanya, ada apa?” alih-alih “Kamu pasti bohong.” Cara ini dinilai menurunkan tensi dan membuka ruang klarifikasi.

Bacaan Lainnya

Selain itu, pasangan dianjurkan menyepakati aturan komunikasi saat emosi meningkat termasuk jeda waktu untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan pembicaraan, serta larangan menggunakan label yang menghakimi. “Kalimat tuduhan sering terdengar cepat dan tegas, tapi biasanya membuat masalah jadi panjang,” ujar konselor tersebut.

Baca Juga:  5 Cara Langkah Sederhana Untuk Mengatasi Depresi

Meski demikian, para ahli menekankan tidak ada resep tunggal untuk semua hubungan. Intensitas prasangka, sumber masalah, dan kemampuan pasangan berkomunikasi berbeda-beda. Namun, satu hal yang dianggap penting adalah membangun kebiasaan memeriksa asumsi sebelum bereaksi.

Catatan Penting: Tulisan ini dilindungi oleh hak cipta. Dilarang keras mengambil, menyalin, atau menyebarluaskan isi tulisan tanpa persetujuan tertulis dari media atau penulis.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *