Portalone.net – Kebiasaan berprasangka buruk terhadap pasangan, seperti langsung menuduh atau menafsirkan tindakan pasangan secara negatif tanpa bukti, kian sering muncul dalam relasi modern dan dinilai berisiko memicu konflik berkepanjangan. Sejumlah konselor hubungan menilai pola pikir ini bisa menggerus kepercayaan, memperlebar jarak emosional, hingga mendorong pasangan saling “berjaga-jaga” alih-alih saling memahami.
Prasangka buruk dalam hubungan biasanya terlihat dari respons spontan yang mengarah pada kesimpulan negatif. Contohnya, ketika pesan tidak segera dibalas lalu diartikan sebagai bentuk pengabaian, atau ketika pasangan pulang lebih larut lalu langsung dituduh menyembunyikan sesuatu. Dalam situasi tertentu, kecurigaan semacam itu muncul berulang dan menjadi cara pandang utama terhadap pasangan.
“Masalahnya bukan sekadar salah paham sekali dua kali, tetapi setiap kejadian dicari makna yang paling buruk,” kata seorang ibu rumah tangga, Rabu (7/1). Ia menjelaskan, prasangka buruk kerap dipicu oleh pengalaman masa lalu, rasa tidak aman, atau komunikasi yang tidak tuntas. “Kalau tidak diintervensi, hubungan berubah jadi ruang pembuktian, bukan ruang aman.”
Sejumlah pasangan yang ditemui mengaku prasangka buruk sering berawal dari hal kecil. Rina (29), karyawan swasta, mengatakan ia pernah tersulut emosi saat pasangannya mengubah kata sandi ponsel. “Saya langsung mikir macam-macam. Baru setelah ngobrol, ternyata ada data kantor dan kebijakan keamanan,” ujarnya. Menurut dia, masalah membesar karena ia menyampaikan kecurigaan dalam bentuk sindiran, bukan pertanyaan.
Pakar komunikasi interpersonal menilai prasangka buruk juga dipengaruhi cara pasangan menyampaikan kebutuhan. Alih-alih bertanya dengan jelas, sebagian orang memilih menebak, lalu memperlakukan tebakan itu seolah fakta. Dampaknya, pasangan yang dituduh merasa tidak dipercaya dan cenderung defensif, sementara pihak yang curiga merasa tidak didengarkan.
Di sisi lain, beberapa ahli menekankan bahwa “prasangka buruk” berbeda dengan kewaspadaan yang wajar, terutama bila ada riwayat kebohongan, pelanggaran komitmen, atau perilaku yang konsisten merugikan. Dalam kondisi demikian, yang dibutuhkan bukan sekadar menahan prasangka, melainkan membangun kejelasan batas, transparansi, serta kesepakatan baru yang realistis.
Konselor hubungan menyarankan pasangan membedakan dugaan dan fakta saat konflik muncul. Salah satu cara yang umum dipakai adalah menyampaikan observasi terlebih dulu, lalu menanyakan konteks. Misalnya, “Aku lihat kamu pulang lebih malam dari biasanya, ada apa?” alih-alih “Kamu pasti bohong.” Cara ini dinilai menurunkan tensi dan membuka ruang klarifikasi.
Selain itu, pasangan dianjurkan menyepakati aturan komunikasi saat emosi meningkat termasuk jeda waktu untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan pembicaraan, serta larangan menggunakan label yang menghakimi. “Kalimat tuduhan sering terdengar cepat dan tegas, tapi biasanya membuat masalah jadi panjang,” ujar konselor tersebut.
Meski demikian, para ahli menekankan tidak ada resep tunggal untuk semua hubungan. Intensitas prasangka, sumber masalah, dan kemampuan pasangan berkomunikasi berbeda-beda. Namun, satu hal yang dianggap penting adalah membangun kebiasaan memeriksa asumsi sebelum bereaksi.







