Dari sisi kesehatan, penggunaan berlebihan juga dikaitkan dengan gangguan tidur dan kelelahan. Aktivitas scrolling pada malam hari, notifikasi yang terus masuk, serta dorongan untuk selalu “online” membuat waktu istirahat berkurang. Dalam jangka panjang, kondisi itu dapat berdampak pada konsentrasi, suasana hati, dan daya tahan tubuh.
Sekolah-sekolah di sejumlah daerah mulai mendorong edukasi literasi digital untuk menekan risiko tersebut. Materinya antara lain etika berinternet, mengenali hoaks, menjaga privasi, serta langkah melapor ketika mengalami perundungan atau pelecehan daring. Namun, upaya sekolah dinilai tidak cukup bila tidak didukung pengawasan di rumah.
Pakar menyarankan orang tua menerapkan aturan penggunaan gawai yang jelas, termasuk durasi harian, jam bebas gawai terutama menjelang tidur, dan larangan membagikan data pribadi. Orang tua juga diminta memanfaatkan fitur kontrol orang tua, membangun komunikasi dua arah, dan memastikan anak memiliki ruang aman untuk bercerita ketika menghadapi masalah di dunia maya.
Di sisi platform, penguatan verifikasi usia, pembatasan pesan dari akun tak dikenal, serta moderasi konten dinilai perlu ditingkatkan untuk melindungi pengguna anak. Pakar juga menilai pemerintah perlu memperkuat regulasi perlindungan anak di ruang digital sekaligus memperluas kampanye edukasi agar remaja memahami hak dan risikonya saat bermedia sosial.
Sejumlah pihak menegaskan media sosial tetap dapat bermanfaat bila digunakan secara tepat, misalnya untuk belajar, berkarya, dan memperluas jejaring. Namun, untuk remaja di bawah umur, manfaat itu dinilai harus diimbangi pendampingan, batasan yang konsisten, serta pendidikan literasi digital agar ruang daring tidak berubah menjadi sumber bahaya.






