Mengapa Trump Akhirnya ‘Menyerah’?
Pakar kebijakan luar negeri Iran dari Quincy Institute, Trita Parsi, menilai Trump sebenarnya tidak punya banyak pilihan. Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Parsi menyebut perang yang lebih luas melawan Iran justru bisa menghancurkan kursi kepresidenan Trump.
“Ia menghadapi tekanan besar dari PBB hingga sekutu di Eropa. Tidak ada satu pun negara sekutu yang mendukung serangan balasan terhadap Iran,” ujar Parsi.
Selain itu, ada beberapa faktor krusial yang diduga membuat Trump melunak:
-
Ancaman Krisis Energi: Jika AS terus menyerang infrastruktur Iran, Teheran diyakini akan membalas dengan menyerang negara-negara Teluk Arab, yang bisa memicu krisis energi global yang sangat parah.
-
Tekanan Dalam Negeri: Trump menghadapi tuduhan penyalahgunaan wewenang karena melancarkan serangan tanpa izin luas dari Kongres.
-
Ancaman Pemakzulan: Muncul gelombang desakan pemakzulan (impeachment) terhadap Trump menyusul ancaman-ancaman eskalasi militernya yang dinilai membahayakan stabilitas dunia.
Parsi menilai, berbagai ancaman “Zaman Batu” yang diteriakkan Trump sebelumnya hanyalah gertakan untuk menutupi posisinya yang sedang terdesak.
“Ia perlu keluar dari situasi ini. Ancaman itu bertujuan memberi kesan bahwa kesepakatan ini hasil tekanannya. Padahal, negosiasi ini justru didasarkan pada rencana 10 poin dari pihak Iran yang lebih rasional,” pungkas Parsi.







