Portalone.net – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan peringatan keras kepada negara-negara mitra dagang yang mencoba memanfaatkan putusan Mahkamah Agung AS (SCOTUS) untuk menarik diri dari kesepakatan bilateral.
Dalam pernyataan terbaru melalui media sosial Truth Social pada Senin (23/2/2026) waktu setempat, Trump menegaskan tidak akan segan-segan menjatuhkan sanksi ekonomi yang lebih berat bagi negara yang dianggap “bermain games”.
Ketegangan ini bermula setelah Mahkamah Agung AS membatalkan kebijakan tarif menyeluruh yang sebelumnya diberlakukan Trump melalui Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA). Pengadilan menilai penggunaan IEEPA untuk tarif permanen melampaui wewenang eksekutif.
Namun, alih-alih melunak, Trump justru merespons dengan mengaktifkan Pasal 122 dari Trade Act 1974. Ia menetapkan tarif global baru sebesar 15 persen sebagai langkah darurat untuk mengatasi defisit pembayaran.
“Negara mana pun yang ingin ‘bermain games’ dengan keputusan Mahkamah Agung yang konyol ini… akan dihadapkan pada tarif yang jauh lebih tinggi dan lebih buruk daripada yang baru saja mereka setujui,” tulis Trump.
Ancaman ini diduga kuat diarahkan kepada beberapa mitra besar seperti Uni Eropa, Inggris, dan India yang dikabarkan mulai meninjau ulang komitmen dagang mereka pasca-putusan pengadilan.
Para diplomat di Brussels dan London dilaporkan tengah berkonsultasi mengenai apakah mereka masih terikat pada perjanjian penurunan tarif yang ditandatangani tahun lalu, mengingat dasar hukum yang digunakan Trump sebelumnya kini dinyatakan tidak sah oleh hukum domestik AS.
“Pesan saya jelas: Buyer Beware! (Pembeli harap waspada). Jangan coba-coba membatalkan apa yang sudah kita sepakati,” tegas Trump dalam pidatonya di Gedung Putih.
Indonesia turut memantau ketat situasi ini. Pasalnya, kedua negara baru saja menyepakati Agreement on Reciprocal Trade (ART) pada pertengahan Februari 2026.
Analis ekonomi menilai, jika Indonesia ikut menunda implementasi kesepakatan tersebut untuk menyesuaikan dengan legalitas di AS, komoditas ekspor unggulan seperti tekstil dan alas kaki berisiko terkena tarif “balasan” 15 persen tersebut.
Pemerintah AS memberikan tenggat waktu singkat bagi negara mitra untuk memberikan kepastian tetap patuh pada kesepakatan lama, atau menghadapi rezim tarif baru yang lebih agresif.






