DPR AS Desak Pembatasan Ekspor Bioteknologi ke China

Ilustrasi mesin bioteknologi. Foto: Dibuat oleh AI

Pada Agustus, anggota parlemen yang sama ditambah Anna Eshoo dari Partai Demokrat meminta Badan Pengawas Obat dan Makanan (Food and Drugs Administration/FDA) untuk meningkatkan pengawasan terhadap uji klinis AS yang dilakukan di China. Mereka beralasan ada risiko pencurian kekayaan intelektual dan kemungkinan partisipasi paksa dari anggota kelompok minoritas Uighur China.

AS Umumkan Pembatasan Ekspor Baru, Menarget Sektor Cip China

Bacaan Lainnya

Mereka mengatakan perusahaan obat-obatan Amerika telah berkolaborasi dengan rumah sakit yang dikelola militer China untuk melakukan ratusan uji klinis selama dekade terakhir, termasuk di Xinjiang, rumah bagi warga Uighur.

Dalam surat tanggapan kepada anggota parlemen tertanggal 2 Januari, Penjabat Komisaris FDA untuk Urusan Legislatif Laura Paulos mengatakan ada perlindungan bagi peserta uji coba.

Baca Juga:  Komunikasi AS-China Berlanjut, Trump Optimis Akhiri Ketegangan Dagang

“Mengingat kekhawatiran mengenai pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di Daerah Otonomi Uyghur Xinjiang, FDA telah secara terbuka menegaskan kembali bahwa (undang-undang) mensyaratkan bahwa uji klinis harus mendapatkan persetujuan yang efektif secara hukum dan berdasarkan informasi dari subjek manusia,” tulisnya.

Menanggapi kekhawatiran mengenai pencurian kekayaan intelektual dan transfer teknologi, Paulos merujuk para anggota parlemen tersebut kepada “mitra lembaga federal AS yang tepat.” [ft]

Sumber: VOA

Catatan Penting: Tulisan ini dilindungi oleh hak cipta. Dilarang keras mengambil, menyalin, atau menyebarluaskan isi tulisan tanpa persetujuan tertulis dari media atau penulis.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *