“Pasar akan bereaksi secara instan. Emas adalah instrumen pertama yang dicari ketika ketidakpastian global memuncak,” tulis analis dalam laporan riset terbaru, Senin (23/2/2026).
Faktor Pendorong: Minyak dan Inflasi
Selain faktor keamanan, tren kenaikan emas juga akan didorong oleh dua faktor utama lainnya:
Gangguan Pasokan Energi: Konflik di kawasan Teluk berisiko mengganggu jalur pelayaran minyak global. Jika harga minyak mentah melonjak, inflasi global akan ikut terkerek naik, yang secara otomatis meningkatkan daya tarik emas sebagai pelindung nilai (hedging).
Pelemahan Aset Berisiko: Investor diprediksi akan melakukan aksi jual besar-besaran di pasar saham (panic selling) dan memindahkan dana mereka ke aset yang lebih stabil.
Dampak ke Harga Emas Antam
Di dalam negeri, harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) diprediksi akan mengikuti jejak harga global. Dengan pelemahan nilai tukar Rupiah yang biasanya menyertai konflik global, harga emas Antam berpotensi menembus rekor baru di atas Rp 3.000.000 per gram.
Meski tren menunjukkan kenaikan, para analis mengingatkan investor untuk tetap waspada terhadap volatilitas tinggi.
“Setelah lonjakan awal, pasar biasanya akan memasuki fase konsolidasi. Penting bagi investor untuk tidak terjebak dalam fomo (fear of missing out) dan tetap memantau rilis data ekonomi AS seperti data inflasi PCE yang juga akan mempengaruhi kebijakan suku bunga The Fed,” pungkas laporan tersebut.






