Namun, posisi Indonesia dinilai lebih kuat dibandingkan negara mitra dagang AS lainnya. Hal ini menyusul tercapainya kesepakatan bilateral yang memberikan fasilitas tarif 0 persen untuk 1.819 produk ekspor unggulan asal Indonesia ke pasar Negeri Paman Sam.
“Indonesia punya ‘benteng’ tersendiri berkat perjanjian tarif 0 persen tersebut. Ini membuat emiten manufaktur dan komoditas kita memiliki daya saing yang lebih tinggi di tengah ketidakpastian global,” lanjut Azharys.
Sektor Basic Industry Pimpin Penguatan
Secara sektoral, indeks sektor industri dasar (basic industry) menjadi motor utama penguatan dengan kenaikan sebesar 3,66 persen. Disusul oleh sektor finansial yang tetap kokoh menjadi penopang indeks.
Beberapa saham yang mencatatkan kenaikan signifikan (top gainers) di antaranya:
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) naik 6,32 persen ke Rp 9.250.
- PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) naik 5,87 persen ke Rp 10.375.
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) naik 4,95 persen ke Rp 1.165.
Di sisi lain, saham-saham blue chip perbankan seperti BBRI dan BBCA juga mencatatkan aksi beli bersih (net buy) oleh investor asing, yang menambah tenaga bagi penguatan IHSG hari ini.
Proyeksi Besok
Analis memprediksi IHSG pada perdagangan Selasa (24/2/2026) masih berpeluang menguat terbatas untuk menguji level psikologis 8.400. Namun, investor disarankan tetap waspada terhadap volatilitas global, terutama terkait perkembangan ketegangan di Selat Hormuz yang dapat memengaruhi harga energi dunia.






