Portalone.net – Keluhan “sudah kerja keras tapi kok masih begitu saja” semakin sering terdengar di kalangan pekerja dan pelaku usaha kecil. Di tengah biaya hidup yang terasa menekan, sebagian orang mulai mencari sumber penghasilan tambahan atau mengalihkan strategi usaha ke sektor yang permintaannya cenderung naik pada 2026, terutama yang terkait digitalisasi, kecerdasan buatan (AI), serta transisi energi.
Sejumlah indikator ekonomi kawasan menunjukkan aktivitas industri Asia menguat seiring meningkatnya pesanan ekspor dan permintaan perangkat keras terkait AI, sementara Eropa masih menghadapi pelemahan manufaktur. Di Asia Tenggara, berbagai lembaga juga menilai adopsi AI berpotensi menjadi mesin pertumbuhan baru namun membutuhkan kesiapan talenta, infrastruktur, dan strategi implementasi yang jelas.
Di dalam negeri, pemerintah menempatkan penguatan UMKM sebagai agenda berlanjut ke 2026 melalui dorongan legalitas, pembiayaan, dan digitalisasi. Sejumlah kajian kebijakan juga menyoroti bahwa digitalisasi berpeluang meningkatkan efisiensi dan pendapatan UMKM, meski tantangannya masih terkait literasi digital, infrastruktur, dan akses teknologi.
Peluang bisnis yang banyak dipertimbangkan pada 2026
1. Jasa “AI praktis” untuk UMKM dan kreator
Alih-alih membangun teknologi dari nol, peluang yang dinilai realistis justru berada pada jasa penerapan AI: pembuatan materi pemasaran, layanan pelanggan berbasis chatbot, otomasi administrasi, ringkasan laporan, hingga analisis sederhana penjualan. Momentum ini sejalan dengan pandangan lembaga internasional dan konsultan yang menilai AI dapat membuka nilai tambah di banyak sektor di Asia Tenggara.
2. Bisnis pendukung UMKM Go Digital
Kebutuhan pendampingan untuk masuk ekosistem digital mulai dari foto produk, manajemen toko online, iklan berbayar, pencatatan stok, hingga pelatihan admin masih besar. Arah kebijakan yang menekankan transformasi dan penguatan UMKM menuju 2026 membuat layanan “pendamping operasional digital” dinilai tetap relevan.
3. Rantai pasok transisi energi: instalasi, perawatan, dan efisiensi
Transisi energi membuka peluang bukan hanya pada pembangkit, tetapi juga pada jasa instalasi, audit efisiensi energi, perawatan perangkat, hingga bisnis komponen pendukung. Laporan energi menunjukkan batubara masih mendominasi sistem listrik Indonesia (disebut lebih dari 65%), sehingga kebutuhan percepatan energi terbarukan dan ekosistemnya menjadi sorotan.
Proyek-proyek energi surya juga terus berjalan; misalnya pembangunan PLTS terapung 92 MWp di Waduk Saguling yang ditargetkan beroperasi komersial pada November 2026.
4. Perdagangan dan jasa untuk kebutuhan “hemat tapi cepat”
Saat konsumen makin sensitif pada harga, peluang sering muncul pada model bisnis yang menekan biaya: produk kebutuhan harian (konsumsi, kebersihan), paket hemat, repackaging, hingga layanan antar lokal. Polanya bukan semata “barang baru”, melainkan kecepatan perputaran dan kedekatan dengan kebutuhan sehari-hari.
5. Perbaikan, refurbish, dan ekonomi sirkular
Ketika daya beli ketat, pasar barang bekas berkualitas, servis peralatan, dan “refurbish” (gawai, perabot, alat rumah tangga) cenderung tumbuh. Pelaku usaha yang mampu memberi garansi sederhana, standar kualitas, dan layanan antar-jemput sering lebih dipercaya.
6. Kesehatan, kebugaran, dan layanan berbasis komunitas
Permintaan terhadap layanan kesehatan preventif kelas kebugaran kecil, katering sehat terjangkau, konsultasi gizi sederhana, hingga produk wellness cenderung stabil. Model komunitas (berlangganan bulanan, kelas kecil) banyak dipilih karena lebih tahan terhadap fluktuasi.
Pos terkait
Harga Bitcoin Terkoreksi Tajam, Masih Adakah Peluang untuk “Rebound”?
Dampak Ketegangan AS-Iran, Harga Emas Antam Berpotensi Tembus Rp 3 Juta per Gram
IHSG Hari Ini Tembus 8.384, Melonjak 1,36 Persen Usai Tarif AS Dibatalkan
Pasar Mobil Bekas Awal 2026 Melonjak 100 Persen, Ini Pemicunya
OJK Jatuhkan Denda Rp 11,05 Miliar Terhadap 4 Pelaku Manipulasi Saham, Ada Influencer Ternama
IHSG Turun, BUMI Stabil, dan PTRO Melemah di Akhir Perdagangan 19 Februari 2026






