Deretan Usaha Paling Menjanjikan di 2026, AI untuk UMKM hingga Bisnis Energi Hijau

Pelaku UMKM Menyiapkan Strategi Bisnis 2026 di Tengah Tren AI dan Ekonomi Digital.

5. Pembiayaan hijau dan jasa pendukung kepatuhan ESG

OJK menerbitkan Taxonomy for Indonesian Sustainable Finance (TKBI) versi terbaru untuk mendorong pembiayaan berkelanjutan. Dengan makin banyak proyek dan pinjaman berlabel hijau, peluang tumbuh pada jasa pendampingan dokumen, pengukuran emisi/energi, hingga pelaporan ESG untuk perusahaan menengah dan pemasok industri.

Contoh usaha: konsultan pelaporan ESG untuk UKM pemasok, jasa energy & carbon baseline, penyusunan dokumen pembiayaan hijau.

Bacaan Lainnya

6. Kesehatan preventif, pangan fungsional, dan merek makanan “lebih sehat”

Perubahan perilaku konsumen ke arah kesehatan mendorong pasar pangan fungsional dan produk yang menonjolkan manfaat tertentu (misalnya rendah gula, tinggi serat, fermentasi, herbal). BPOM juga aktif mendorong ekosistem UMKM pangan melalui kolaborasi dan pembinaan kepatuhan, yang membuka ruang bagi produsen kecil yang disiplin mutu dan perizinan.

Baca Juga:  OJK Periksa Ketahanan Siber Seluruh BPD Usai Kasus Peretasan BI-FAST

Contoh usaha: healthy snack lokal, katering sehat, ready-to-drink fungsional, jasa pendampingan izin & label pangan.

7. Pendidikan keterampilan digital dan upskilling berbasis kebutuhan kerja

WEF memperkirakan disrupsi keterampilan berlanjut hingga 2030, dengan permintaan yang naik pada keterampilan data/AI, keamanan siber, dan peran terkait transisi hijau. Ini memperkuat prospek lembaga kursus praktis yang menautkan pelatihan ke kebutuhan kerja (portofolio, proyek nyata, sertifikasi).

Contoh usaha: bootcamp micro-skill (AI untuk admin, sales, akuntansi), pelatihan operator solar/maintenance, job-ready cybersecurity.

Catatan risiko (yang sering menentukan berhasil atau tidak)

  1. Biaya akuisisi pelanggan di ekonomi digital bisa tinggi model bisnis yang menang biasanya punya niche jelas (misalnya satu kategori industri) dan retensi kuat.

  2. Ketidakpastian makro (suku bunga, volatilitas pasar) tetap jadi faktor, sehingga usaha yang cepat mencapai arus kas positif cenderung lebih tahan.

  3. Regulasi & kepatuhan (data, pangan, energi) perlu dihitung dari awal agar tidak mahal di belakang

Catatan Penting: Tulisan ini dilindungi oleh hak cipta. Dilarang keras mengambil, menyalin, atau menyebarluaskan isi tulisan tanpa persetujuan tertulis dari media atau penulis.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *